Pater Driessche merupakan katekis dengan bakat luar biasa yang mempu menyajikan kebenaran iman dengan cara yang dapat dimengerti dan menawan. Pelajarannya menyenangkan dengan banyak tawa, tetapi juga tahu bagaimana bersikap tegas pada waktunya. Menurutnya bagi para petobat, sangat penting untuk menenkankan kebenaran dasar iman. Sebagai seorang lelaki cerita rakyat sejati, dia sangat memahami nilai besar dari upacara lahiriah, sehingga terjadang misa yang ia pimpin terlalu lama, banyak putra altar, dan lilin serta bejana dupa.
Pater Driessche dikenal karena pengetahuannya yang mendalam tentang bahasa Jawa. Sebagai seorang teolog yang pandai, dia melakukan pekerjaan perintis; terjemahan atas katekismus, surat, dan injil ke dalam bahasa Jawa yang memiliki makna yang bertahan lama.
Pater Driessche lahir pada 1 Februari 1875 di Surabaya, Indonesia. Dia bersekolah awal di HBS dan kemudian belajar di sekolah adminstrasi untuk mempersiapkan karir sebagai Pejabat Administrasi Hindia Belanda. Oleh karenanya dia mengabdikan dirinya untuk mempelajari bahasa Jawa. Keuntungan lain dalam kehidupannya di kemudian hari ialah banyak pegawai negeri terkemuka yang kemudian mengenali Pater Drissche sebagai teman sekolahnya yang periang.
Selama studinya Pater Driessche mengalami kram sehingga membuatnya harus belajar menulis dengan kedua tangannya. Ia pernah berusaha menyembuhkan penyakit ini dengan pergi ke Eropa, termasuk Wiesbaden. Perawatan di sana memberinya sedikit perbaikan tetapi tidak cukup untuk berhasil melanjutkan studinya.
Sementara itu timbul keinginan dalam dirinya untuk menjadi Imam-Misionaris. Setelah berkenalan dengan Serikat Yesus, satu-satunya ordo yang aktif di Jawa saat itu, Ia ingin meminta untuk diterima di sana. Sebenarnya ini rencana yang agak mengkhawatirkan karena selain kram tangannya, usianya sudah agak lanjut, dan ketimpangan tertentu di salah satu kakinya menjadi hambatan serius bagi imamat.
Pada 26 September 1899, ia masuk novisiat Serikat Jesus di Mariendaal dan berumur 24 tahun. Menurutnya masa novisiat merupakan sumber kegembiraan yang benar-benar religius untuk rekreasi. Dia sendiri memiliki watak yang lucu, dia memiliki punggung yang lebar, tetapi lidah yang tegas. Ia berhasil menyelesaikan studi filsafat dan teologinya, dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 24 Agustus 1909 di Maastricht. Setelah menyelesaikan studi teologinya dengan gemilang, ia secara tak terduga ditunjuk sebagai guru matematika di Oudenbosch. Hal ini membuatnya merasa cita-cita misionarisnya telah lenyap.
Pada tahun 1912, ia akhirnya berangkat ke Jawa sebagai misionaris. Tanggal 24 November 1912, ia tiba di Tanjung Prik dan ditunjuk menjadi guru matematika di Muntilan kepada para siswa Kweekschool dan mengajar bahasa latin di Seminari Menengah yang baru saja dimulai di sana. Pada hari Minggu ia sering berkhotbah dalam bahasa Jawa kepada murid-murid dan umat Katolik di sekitarnya. Pengetahuannya akan bahasa Jawa yang diperoleh ketika awal studi sebagai pegawai negeri sangat membantunya. Para siswa langsung terpikat oleh bahasa Jawa yang indah, murni, dan cara penyampaian kebenaran-kebenaran iman yang memikat.
Karena semakin jelas bahwa Pater Driessche memiliki bakat khusus berurusan dengan orang Jawa, dia semakin ditugasi untuk menggembalakan umat Katolik dan Katekumen Jawa. Dia juga mencoba menyebarkan iman Katolik di sekitar Muntilan diantara umat Islam dan penyembah berhala.
Penyakit membuat kesehatannya menurun. Di akhir hidupnya mengalami kelumpuhan dan harus dibantu berjalan untuk dapat tetap melaksanakan misi dan karyanya. Ia meninggal pada 10 Juni 1934 dan dimakamkan di Kerkof Muntilan.