Pater Versteegh dilahirkan pada 23 Januari 1898. Ia masuk novisiat Serikat Jesus pada 10 Mei 1917 dan ditahbiskan menjadi imam pada 15 Agustus 1930. Ia ditugaskan di Indonesia setelah masa novisiat dan studi filsafatnya selesai.
Tahun orientasi kerasulannya ditempuh di Muntilan selama 3 tahun (1924-1927). Seusai TOK selesai, ia kembali ke Belanda untuk menempuh studi Teologi di Maastricht dan ditahbiskan di sana. Seusai menerima tahbisan imamnya, ia menempuh tahap akhir formasi Jesuit dalam tersiat di Belgia dan kembali ke Indonesia.
Riwayat Penugasan setelah tersiat
| Paroki Klaten | Klaten | 1932-1938 |
| Paroki St. Ignatius | Magelang | 1938-1945 |
Pater Versteegh merupakan salah satu romo yang dibunuh bersama 4 imam, 2 frater, 1 bruder dan 2 warga, oleh warga setempat di Magelang pada 1 November 1945. Berawal dari tuduhan sekelompok pemuda tentang adanya tembakan dari halaman Pastoran Magelang. Meskipun mereka mencoba membela diri, para pemuda ini tidak mau menerima. Setelah Pater Versteegh meminta waktu untuk mereka mengaku dosa dan mempersiapkan diri, mereka dibunuh di Giriloyo, Magelang.
Nama para imam, frater, dan bruder Jesuit itu ialah : 1. Pater Gerardus Aben, S.J 2. Pater Gerardus Minderop, S.J 3. Pater Joannes Schouten, S.J 4. Pater Josephus Versteegh, S.J 5. Pater Ludovicus Weve, S.J 6. Bruder Dominicus Widyasoepadma, S.J 7. Frater Norbertus Dirdjasoewita, S.J 8. Frater Willibrodus Mooi-Wilten, S.J
Tiga bulan kemudian, Angkatan pemuda ini menyatakan bahwa para nostri dan warga yang terbunuh tidak bersalah. Kemudian pada 5 Agustus 1950, makam mereka dibongkar dan dimakamkan di Kerkof Muntilan.