Dilahirkan pada 4 April 1885. Ia masuk Serikat Jesus pada 26 September 1903 dan ditahbiskan menjadi seorang imam pada 26 Agustus 1917. Kemudian ia melanjutkan tahap akhir formasi Serikat Jesus dalam tersiat dan kemudian mengucapkan kaul akhir pada 19 Maret 1921. Setelah mengucapkan kaul akhir, beliau melanjutkan karya-karyanya di Indonesia.
Riwayat Penugasan
| Paroki Gedangan | Semarang | 1920-1924 | Paroki Bogor | Bogor | 1924-1927 |
| Pastoran Kramat | Jakarta | 1927-1930 |
| Cuti | Belanda | 1930-1931 |
| Paroki Gedangan | Semarang | 1931-1936 |
| Educatio | Muntilan | 1936-1940 |
| Paroki Gedangan | Semarang | 1940-1942 |
| Paroki Muntilan | Muntilan | 1942-1943 |
| Internir Jung Eng / Roncalli | Salatiga | 1943-1944 |
| Internir Kamp Cikudapateu | Bandung | 1944-1945 |
Pater Minderop merupakan satu dari 5 imam yang dibunuh bersama 2 frater, 1 bruder dan 2 warga, oleh warga setempat di Magelang pada 1 November 1945. Berawal dari tuduhan sekelompok pemuda tentang adanya tembakan dari halaman Pastoran Magelang. Meskipun mereka mencoba membela diri, para pemuda ini tidak mau menerima. Setelah Pater Versteegh meminta waktu untuk mereka mengaku dosa dan mempersiapkan diri, mereka dibunuh di Giriloyo, Magelang.
Nama para imam, frater, dan bruder Jesuit itu ialah : 1. Pater Gerardus Aben, S.J 2. Pater Gerardus Minderop, S.J 3. Pater Joannes Schouten, S.J 4. Pater Josephus Versteegh, S.J 5. Pater Ludovicus Weve, S.J 6. Bruder Dominicus Widyasoepadma, S.J 7. Frater Norbertus Dirdjasoewita, S.J 8. Frater Willibrodus Mooi-Wilten, S.J
Tiga bulan kemudian, Angkatan pemuda ini menyatakan bahwa para nostri dan warga yang terbunuh tidak bersalah. Kemudian pada 5 Agustus 1950, makam mereka dibongkar dan dimakamkan di Kerkof Muntilan.