Pater Calon lahir pada 16 April 1852. Masuk novisiat Serikat Jesus pada 26 September 1873 dan ditahbiskan menjadi imam pada 8 September 1886. Tidak lama berselang sejak ditahbiskan menjadi imam, ia mendapatkan tugas misi ke Hindia Belanda pada tahun 1887.
Riwayat penugasan selama di Indonesia :
| Pastor Paroki Maumere (Kotting, Lela, Nita) | Flores | 1887-1888 |
| Pastor Paroki Sikka | Flores | 1888-1889 |
| Pastor Paroki Maumere (Kotting, Lela, Nita) | Flores | 1889-1893 |
Pada 3 Juli 1893, Pastor Calon tiba dari Maumere di Ujung Pandang (Makassar) dalam kondisi sangat lemah akibat demam malaria yang parah. Ia sendiri meyakini bahwa penyakitnya berkaitan dengan efek heat stroke yang dialaminya pada Januari sebelumnya. Berkat perawatan segera, kesehatannya berangsur membaik hingga dokter memutuskan bahwa perjalanan ke Jawa tidak diperlukan. Mereka percaya bahwa tinggal bersama seorang rekan kerja di Makassar, yang memiliki kondisi kesehatan yang relatif baik, akan lebih efektif dibandingkan beristirahat di rumah penginapan atau resor kesehatan.
Dalam beberapa hari, Pastor Calon mulai kembali beraktivitas dengan semangat penuh. Ia mendalami bahasa Sikkanea—studi favoritnya—menyelesaikan Sejarah Alkitab (Perjanjian Lama), serta menelaah karya para pemikir seperti Brandes, Kern, dan Max Müller. Ia bekerja dengan energi baru, merancang rencana bagi misi yang dijalankannya, dan percaya bahwa ia bisa segera kembali bertugas.
Namun, pada bulan September, ia mulai mengeluhkan kondisi kesehatannya yang kembali memburuk—nafsu makannya menurun dan demam kembali menyerangnya. Dokter awalnya menganggapnya sebagai serangan malaria biasa, sehingga tidak terlalu mengkhawatirkannya. Meski begitu, demam terus berulang, menyebabkan kekhawatiran yang semakin besar. Setelah beberapa hari, akhirnya diputuskan bahwa Pastor Calon harus segera berangkat ke Jawa untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Kapal pertama yang tersedia dijadwalkan berangkat ke Surabaya pada 13 September 1893, melalui rute Timor-Kupang.
Di tengah kondisi yang semakin melemah, Pastor Calon tetap berusaha menjalani kehidupannya dengan normal. Ia masih berdiri, berjalan, dan bahkan duduk bersama rekan-rekannya di meja makan hingga malam tanggal 12 September. Pada malam itu, ia menerima Sakramen dengan penuh kesalehan, seolah menyadari bahwa waktunya semakin dekat.
Pada 13 September 1893, dokter datang sebanyak empat kali untuk memeriksa kondisinya. Mereka sepakat bahwa ia tidak boleh diangkut selama demamnya masih berlangsung, demi menghindari risiko yang lebih besar. Dan akhirnya, pada pagi hari tanggal 14 September 1893, dalam ketenangan dan kelembutan, Pastor Calon berpulang, meninggalkan kehidupan yang penuh dedikasi dan pengabdian bagi misi yang dicintainya.