Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Rijckevorsel lahir pada 11 September 1846 di 's-Hertogenbosch dan memasuki Serikat Yesus pada usia 20 tahun. Enam tahun pertama kehidupan religiusnya dihabiskan di Novisiat Velp dekat Grave, di rumah Mariëndaal, tempat ia mendalami sastra dan filsafat. Dari tahun 1872 hingga 1875, ia mengajar di gimnasium Sittard sebelum melanjutkan studi teologi di Maastricht dari 1875 hingga 1878. Setelah ditahbiskan menjadi imam, ia melayani di berbagai tempat, termasuk Groningen, di mana ia tinggal selama tujuh tahun. Namun, panggilan hatinya selalu tertuju pada misi di Hindia Belanda—ia ingin mempersembahkan hidupnya demi memenangkan jiwa bagi Tuhan. Saudaranya, Pastor Hubertus van Rijckevorsel, telah lebih dahulu mengabdikan diri sebagai misionaris di sana.

Akhirnya, pada tahun 1890, keinginannya terwujud, dan ia berangkat ke Hindia Belanda. Sehari sebelum kedatangan kapal, ia tiba di Larantoeka, meski sempat mengalami demam akibat terpapar sinar matahari terlalu lama tanpa pelindung kepala. Awalnya, ia masih menjalani harinya dengan penuh semangat, tetapi keesokan harinya kondisinya memburuk. Berencana mencari udara yang lebih sejuk di Kotting, ia berharap bisa kembali ke Larantoeka setelah beberapa minggu. Namun, saat berada di atas kapal, ia mulai mengeluhkan kesemutan dan mati rasa di kakinya. Meski tetap berusaha bertahan, ia akhirnya mengalami sesak di kabinnya dan terpaksa tidur di atas canapé dengan selimut seadanya, disertai batuk yang semakin parah.

Saat tiba di Maumere keesokan paginya, kelemahan di kakinya begitu parah sehingga ia harus dipapah menuju pastoran. Sorenya, kelemahan mulai merambat ke tangan, dan malam harinya ia tak lagi mampu berdiri. Hari berikutnya, kelumpuhan semakin memburuk, hingga akhirnya ia benar-benar tak berdaya. Beruntung, beberapa pemuda besar dari Waibdloen dengan penuh kasih mengawasinya siang dan malam, memberikan perhatian dan kepedulian terbaik bagi sang pastor. Namun, kondisinya terus memburuk—ia tak lagi mampu makan, bahkan sedikit air pun segera keluar bersama lendir.

Tampaknya Tuhan telah memanggilnya ke Maumere, tempat di mana saudaranya Hubertus telah beristirahat dengan damai selama lebih dari 20 tahun. Pada 28 November 1898, Pater Rijckevorsel menghembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di Maumere, meninggalkan jejak ketulusan serta pengabdiannya yang tak tergantikan.