Bruder Amatus van de Velde memasuki Serikat Yesus pada tahun 1873 dan berangkat ke Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1876. Setelah mengabdi di Larantuka selama sekitar satu tahun, pada awal 1877 ia ditugaskan oleh Superiornya untuk melayani di Stasi Misi yang baru didirikan di Maumere. Meski kondisi kesehatannya tidak ideal, dengan sukacita dan ketaatan, ia menerima tugas itu dan mengabdikan dirinya dengan sepenuh hati.
Awal mula kehidupan misi di Maumere penuh dengan kesulitan—rumah yang sederhana, fasilitas terbatas, dan tantangan besar dalam membangun komunitas. Namun, bagi Bruder Amatus, hambatan-hambatan ini justru menjadi dorongan untuk semakin berkomitmen dalam menyelamatkan jiwa-jiwa. Salah satu fokus utamanya adalah pendidikan, sehingga segera setelah tiba, ia mendirikan sekolah anak laki-laki. Pada awalnya, sekolah itu kecil dan kurang berkembang, tetapi seiring berjalannya waktu, jumlah murid bertambah. Ketika masyarakat semakin mengenalnya, semakin banyak orang tua yang mempercayakan anak-anak mereka kepadanya, hingga jumlah murid melebihi 125 orang.
Sekolah tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya—Bruder Amatus dan sekolahnya adalah satu kesatuan. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan anak-anak didiknya. Di luar jam belajar, ia menemani mereka berjalan-jalan, menghibur mereka di saat-saat santai, dan merawat mereka saat sakit dengan penuh kasih seperti seorang ibu. Ia bahkan rela terjaga di malam hari untuk memastikan mereka mendapat perhatian yang layak. Ia berbagi dalam suka dan duka mereka, menunjukkan kasih dan kepedulian yang tulus.
Di luar sekolah, Bruder Amatus juga dikenal sebagai sosok penuh perhatian dan penyembuh bagi masyarakat. Pengetahuannya tentang obat-obatan dan kemampuannya memahami bahasa serta keluhan masyarakat membuatnya dihormati dan dicintai. Ia selalu siap membantu, kapan pun dan di mana pun ada kebutuhan.
Namun, pengabdian yang luar biasa ini pada akhirnya menguras kesehatannya. Pada usia 47 tahun, tubuhnya mulai melemah—tangan kanan kehilangan fungsi, lalu tangan kiri, diikuti kaki dan akhirnya kemampuan berbicara. Ia menjadi tidak berdaya, bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain. Dengan penuh kasih, beberapa anak sekolah kecil setia menemani dan merawatnya. Mereka duduk berjongkok di samping kursinya, selalu siap memenuhi kebutuhannya.
Hari-hari terakhirnya dihabiskan di ambang pintu kamarnya, menghadap sekolah dan taman bermain. Di sana, meskipun tubuhnya lemah, ia tetap bisa melihat dan mendengar anak-anaknya—merasa dekat dengan mereka sampai akhir. Dalam ketenangan dan keikhlasan, ia menyerahkan jiwanya kepada Sang Pencipta, diperkuat dengan Sakramen-sakramen terakhir dan Komuni Suci.
Bruder Amatus van de Velde meninggal pada 14 April 1898 dan dimakamkan di Maumere, meninggalkan warisan kasih dan pengabdian yang akan selalu dikenang.