Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Madlener dilahirkan di Den Haag pada 9 Juli 1882. Ia masuk serikat pada 26 September 1902 di Mariendaal dan ditahbiskan Imam pada 24 Agustus 1916. Sedangkau kaul terakhirnya diucapkan di Bogor pada 2 Februari 1920.

Pada tanggal 28 Februari 1919, ia tiba di Indonesia. Untuk waktu yang pendek, ia ditempatkan di Gedangan dan ia masih mengalami cara-cara bepergian secara kuno. Ia kemudian dipindahkan ke Bogor, setelah ia diangkat menjadi Direktur Rumah Piatu di Kramat.

Riwayat Penugasan PATER THEODORUS MADLENER, S.J selama di Indonesia :

diluar Indonesia (pater)IN ITINERE1919
Pastor Paroki Gedangan Semarang 1919-1920
Pastor Paroki Bogor Bogor 1920-1921
Pastor Paroki Kramat Jakarta 1921-1927
Pastoral Paroki St. Ignatius Magelang1927-1930
diluar Indonesia (pater)Belanda1930-1931
Pastoral Paroki St. Ignatius Magelang 1931-1943
Internir (pater) Banyubiru 1943-1944
Internir (pater) – Kamp. CikudapateuBandung1944-1945
Pastoral Paroki Bandung Bandung 1945-1947
Pastor Paroki TheresiaJakarta1947-1965

Tahun 1927, ia ditunjuk sebagai almoezenier (Pastor Militer) dengan berkedudukan di Magelang. Sebagai almoezenier yang pertama, ia disana masih harus mencari jalannya dan masih harus membuka jalan agar diterima oleh para pejabat-pejabat militer yang tidak semua gampang serta toleran. Dengan pengetahuannya tentang agama yang jelas dan keberanian yang tidak kenal putus asa, maka ia sangat tepat bagi jabatan tersebut.

Ketika pendudukan Jepang, ia mengalami masa internir yang ia lalui dengan selamat. Kemudian ia ditempatkan di Paroki Theresia, Jakarta hingga wafatnya.

Di hari-hari menjelang wafatnya, Pater Madlener telah mengalami serangan jantung tidak terduga. Hanya saja hari itu, dia tidak terlihat di gereja, sehingga dilihat oleh Pater Minister. Rupanya ia sedang duduk di pinggiran tempat tidur dan mengatakan bahwa jantungnya serasa tidak baik-baik saja. Pater minister hendak membawanya ke Rumah Sakit Carolus namun rupanya saat itu sedang penuh dan baru akan ada tempat diperkirakan di hari lusa. Malam itu, baik frater ataupun romo bergantian untuk berjaga menemani beliau.

Keesokan paginya beliau menerima sakramen dan komuni bagi orang sakit. Ditemani seorang perawat untuk memantau kondisinya. Hari itu kondisinya membaik. Jantungnya dirasa sudah semakin baik dan bicaranya pun semakin jelas. Namun, rupanya hari itu menjadi hari terakhir baginya. Ketika Pater Madlener tidur, nafasnya baik. Tidurnya tenang. Namun itulah hari terakhir Pater Madlener bernafas dan bersama para nostri di Theresia. Pater Madlener meninggal dunia pada 10 Agustus 1965.