Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Tarcisius Widyana, yang sering disapa “Romo Wid”, lebih dikenal sebagai pastor paroki. Imamat dihayatinya sebagai gembala di banyak paroki. Lahir di Wonolelo, Muntilan, 15 Oktober 1920, Pater T. Widyana adalah putera dari (Alm) Bapak Sukardi Somawijaya dan (Alm) Ibu Somawijaya. Menerima baptis pada usia 10 tahun (19 Desember 1930). Menempuh pendidikan dasar HIS di Muntilan (1927-1934), lalu melanjutkan pendidikan calon imam di Seminari Yogyakarta (1934-1940).

Masuk Novisiat Serikat Jesus di Girisonta pada 7 September 1940, dan mengucapkan kaul pertamanya pada 8 September 1942 di Novisiat Girisonta, Ungaran, dilanjutkan tahun juniorat (1942-1946) di Semarang dan Yogyakarta. Setelah itu Frater Widyana menempuh studi filsafat di Yogyakarta selama 3 tahun (1946-1949).

Tahap orientasi kerasulan dijalani sebagai surveillant dan guru agama di Ambarawa pada 1949-1950. Selepas orientasi kerasulan, Frater Widyana belajar teologi di Maastricht (1950-1954). Tahbisan tonsura dan tahbisan rendah diterimanya pada 1 Juli 1949 di Yogyakarta dari tangan Mgr A Soegijapranata SJ; tahbisan diakon pada 1953 di Maastricht oleh Mgr Hanssen, dan tahbisan imamat pada 22 Agustus 1953 dari tangan Mgr H Lemmens di Maastricht. Selama kurang lebih satu tahun, yaitu tahun terakhir teologinya di Maastricht, Romo Widyana melayani umat sebagai pastor pembantu di salah satu paroki Serikat Jesus di Maastricht. Di situ Pater Widyana berhasil membawa kembali sebuah keluarga ke dalam pangkuan Ibu Gereja Katolik.

Romo Wid menjalankan tersiatnya di Girisonta pada September 1954 s.d. Mei 1955 di bawah bimbingan Mgr P.J. Willekens SJ. Kaul akhir diucapkannya pada 2 Februari 1956 di Yogyakarta.

Romo Wid dikenal juga sebagai pribadi yang tak mau berhenti belajar. Di samping tugas utamanya sebagai pastor paroki, beliau rajin mengikuti aneka kursus imam, workshop katekis, pekan pastoral, refresher course, juga memberi retret bagi para imam, religius, Kongregasi Maria, dan penyegaran katekis baik di Jawa maupun luar Jawa.

Riwayat tugas dari kaul akhir sampai wafatnya

Pastor Kepala Paroki WonosariYogyakarta1956-1962
Pastor Kepala Paroki MedariYogyakarta1962-1965
Pastor Pembantu Paroki KotabaruYogyakarta1965
Pastor Kepala Paroki KotabaruYogyakarta1966-1972
Pastor Pembantu Paroki KlatenKlaten1972
Pastor Pembantu Paroki MetroLampung1973
Pastor Pembantu Paroki WonosariYogyakarta1974-1977
Pastor Paroki Raba Bima, SumbawaKeuskupan Weetebula1978-1984
Pastor Kepala Paroki WeleriWeleri1984-1990
Pastor Kepala Paroki St Maria FatimaMagelang1990-1998
Pastor Pembantu Paroki SukorejoSukorejo1998-2004
Rumah Istirahat EmmausGirisonta, Ungaran2004-RIP

Selama masa istirahatnya di Girisonta pun Romo Widyana dengan gembira dan bersemangat membantu pelayanan di Paroki Girisonta dengan perayaan ekaristi baik di gereja maupun di stasi-stasi atau mendengarkan pengakuan dosa. Berkurangnya sedikit demi sedikit kemampuan manusiawinya tidak menghentikannya untuk belajar terus-menerus, dan melakukan aktivitas harian yang masih mungkin. Almarhum banyak membaca, menerjemahkan tulisan-tulisan, belajar berkomunikasi melalui e-mail. Rasanya tidak ada yang tidak mengenal Almarhum sebagai pribadi yang sumeleh dan gembira dengan panggilan hidupnya. Selamat jalan, Romo Wid.

Pemakaman

Ekaristi requiem dirayakan di Gereja St. Stanislaus, Girisonta pada Selasa, 10 Januari 2012 dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Getsemani, Girisonta.