Pater Marie Paul Albert Rutten lebih suka disapa dengan “Romo Rutten.” Beliau sendiri terpikat pada nama yang berbau kejawa-jawaan “Rudito” untuk dirinya dan dengan penuh kemantapan memilih kewarganegaraan Indonesia. Karena hasrat untuk merasul di Indonesia, ia pun lantas belajar dengan penuh ketekunan tentang keindonesiaan dan kejawaan. Alhasil, jadilah beliau Romo Rutten Rudito yang fasih berbahasa Jawa krama. Kelak, ia juga lancar berbahasa Tetun ketika diutus berkarya di Timor Leste.
Rutten Rudito, kelahiran 8 April 1925 di Gulpen Nederland, adalah anak dari pasangan suami istri Bapak Paul Rutten (†1955) dan Ibu Eugenie Gielen Rutten (†1979). Menempuh pendidikan dasar sampai kelas 5 di Gulpen (1931-1936), lalu melanjutkan kelas 6-nya di Amersfoort (1936-1937). Setamat SD, ia melanjutkan ke Gymnasium B di Nijmegen (1937-1943).
Lulus dari Gymnasium, Albert Rutten masuk Novisiat SJ di Mariëndaal pada 15 Juli 1943; mengucapkan kaul pertama pada 16 Juli 1945 dan melanjutkan formasi juniorat. Studi filsafat ditempuhnya di Nijmegen (1946-1949). Ia dikirim ke Indonesia sebagai frater TOK-er surveillant di Ambarawa (1949-1951) dan katekis di Yogyakarta (1951-1952). Ia kembali ke Negeri Belanda untuk belajar teologi di Maastricht (1952-1956). Di sela-sela tahun teologinya ia menerima Tahbisan Tonsura dan Tahbisan Rendah di Nijmegen pada 11 Agustus 1949 dari tangan Mgr Mutsærtz; Subdiakon pada 30 Mei 1955, dan Diakon 31 Mei 1955 dari tangan Mgr J. Hanssens. Tahbisan imamat diterimanya di Maastricht pada 22 Agustus 1955 dari Mgr Lemmens.
Tersiat sebagai tahap akhir pembinaan sebagai Jesuit ditempuhnya pada September 1956 s.d. Juli 1957 di Paray le Monial. Setahun kemudian, ia mengikrarkan kaul akhirnya sebagai Jesuit coadiutor spiritualis pada 3 Februari 1958 di Surakarta di hadapan Mgr A. Soegijapranata, S.J. Pada 27 Desember 1976 Serikat menerima ikrar kaulnya sebagai profess empat kaul.
Romo Rutten dikenal sebagai pastor paroki yang dekat dengan umat. “Umat”-nya bukan hanya umat paroki yang menjadi tanggung jawabnya tetapi juga mereka yang setia mendengarkan pelajaran agama dan mengikuti retret yang dia berikan. Pelbagai retret untuk kalangan luas dia berikan, seperti untuk dewan paroki, lulusan SPG dan KPTT, prodiakon paroki, kelompok imam, dan retret umat. Hal itu mula-mula dilakukannya di Yogyakarta, lalu di Ungaran, dan akhirnya di Timor Leste ketika ia bertugas mengajar dan menjadi pembimbing rohani di Seminari Bunda Maria Fatima, Dili, dari tahun 1988 sampai 2006.
Pada September 2006, ditemani oleh seorang suster FSGM beliau terbang dari Timor Leste untuk pengobatan dan check-up di RS St. Elisabeth Semarang. Waktu itu ia harus opname selama satu minggu. Demi pemulihan kesehatannya, selama hampir dua bulan Romo Rutten beristirahat di Emmaus hingga kepulangannya kembali ke Timor Leste.
Usia yang semakin senja dan kekuatan fisik yang kian menurun tak dapat dielakkannya. Ia menerima dengan gembira penugasan dari Provinsial yang menghendakinya kembali dari Timor Leste ke Indonesia dan tinggal di Kolese St Ignatius, Yogyakarta. Usia senja tidak menjadi momok baginya untuk switch dari bahasa Tetun ke basa Jawa krama. Dari kamarnya di Kolsani pelayanan pastoralnya menjangkau kota Yogyakarta, antara lain mengunjungi pasien-pasien dan menerimakan Sakramen Pengurapan Orang Sakit di RS Panti Rapih, misa di lingkungan, dan beberapa kegiatan lainnya.
Riwayat Tugas Romo Rutten
| Minister di Kolese St. Ignatius | Yogyakarta | 1958-1959 |
| Pastor Rekan Paroki Kotabaru | Yogyakarta | 1959-1965 |
| Pastor Paroki Pakem | Yogyakarta | 1966-1969 |
| Pastor Paroki Somohitan | Yogyakarta | 1969-1976 |
| Minister di Kolese St. Stanislaus Kostka | Ungaran | 1976 |
| Socius Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka | Ungaran | 1976-1987 |
| Cuti | Belanda | 1987-1988 |
| Mengajar & Pembimbing Rohani di Seminari Bunda Maria Fatima | Dili | 1988-2006 |
| Emeritus, Penerjemah, dan reksa pastoral | Kolsani, Yogyakarta | 2007-2012 |
| Pendoa bagi Gereja & Serikat | Emmaus, Girisonta | 2012-wafatnya |
Ekaristi Requiem dan Pemakaman
Perayaan Ekaristi Requiem dilaksanakan di Kolese St. Stanislaus, Girisonta pada Minggu, 3 Januari 2016 dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran.