Pater Kurris lahir pada 11 Agustus 1929 di Maastricht, Nederland, anak dari pasangan orangtua Bapak Dr. Ing. F.X. Kurris dan Ibu Maria Haagmans Kurris.
Sebelum masuk Serikat Jesus, Kurris muda menempuh pendidikan dasar Gymnasium A di Sittard, Nijmegen (1941-1945; 1946-1949). Kurris remaja masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariëndaal, Grave, pada 7 September 1949; mengucapkan kaul pertama pada 8 September 1951 di Girisonta; masa juniorat dijalaninya pada 1951-1953 di Girisonta.
Frater Kurris belajar filsafat di selama 3 (tiga) tahun di Yogyakarta (1953-1956). Formasi TOK memberinya tugas sebagai surveillant di Kolese Kanisius, Jakarta (1956-1959). Selesai TOK ia belajar Teologi di Yogyakarta (1959-1963); menerima tahbisan tonsura dan tahbisan rendah di Ambarawa, 24 Juli 1956 dari tangan Mgr A. Soegijapranata SJ; tahbisan diakon pada 4 Mei 1962 di Yogyakarta diterimanya dari tangan Mgr Schoemakers; dan tahbisan imam pada 31 Juli 1962 di Yogyakarta dari Mgr Schoemakers.
Satu tahun setelah tahbisan imamat Pater Kurris menempuh tersiat (1963-1964) di Wepion, Belgia di bawah bimbingan Pater Hayen. Kaul akhir pada 2 Februari 1965 di hadapan Pater Carolus Orie, S.J., Vice Provinsial kala itu.
Riwayat tugas dari kaul akhir sampai wafatnya.
| Anggota Komisi Komunikasi Sosial | 1976-1977 | |
| Pastor Pembantu Paroki St Franciscus Xaverius, Tanjungpriok | Jakarta | 1964-1966 |
| Pastor Kepala Paroki St Franciscus Xaverius, Tanjungpriok | Jakarta | 1966-1972 |
| Pastor Kepala Paroki Blok B, Kebayoran Baru | Jakarta | 1972-1985 |
| Pastor Kepala Paroki St Maria Diangkat ke Surga, Katedral | Jakarta | 1985-1993 |
| Pastor Kepala Paroki St Servatius, Kampung Sawah | Bekasi | 1993-2002 |
| Pastor Kepala Paroki St Maria | Tarutung | 2002-2006 |
| Pastor Pembantu Paroki St Antonius, Purbayan | Surakarta | 2006-2009 |
| Penulis sejarah Serikat Jesus dan Gereja di Indonesia | Girisonta | 2009-wafat |
Jiwa Pater Kurris adalah pastor, gembala umat. Ia sadar bahwa dirinya menjadi bagian dari perjalanan hidup Umat Allah yang hidup dan historis. Dan lebih daripada seorang gembala yang mengenal umatnya melalui reksa pastoral harian di paroki-paroki, Pater Kurris juga menyelami umat melalui sejarah. Maka dari tangannya terbit buku-buku kisah pergumulan historis Umat Allah, kadang dengan nama samaran: Sejarah Seputar Katedral Jakarta (1992), Terlepas Sebelum Terusap (Sukri Kaslan, Sinar Harapan, 1985), Terpencil di Pinggiran Jakarta. Satu Abad Umat Katolik Betawi (Obor, 1996), Pelangi di Bukit Barisan (Sejarah Gereja Katolik di Tanah Tapanuli, Kanisius, 2006), Santiago de Compostella (kisah perjalanan), Sang Jago Tuhan (kisah tentang Le Cocq d’Armandville, Jesuit Misionaris di Tanah Papua, Kanisius, 2001), dan Purbayan di Tengah Rakyat dan Ningrat (Araya, 2009).
Karena itulah, selepas dari tugas sebagai Pastor Pembantu Paroki Purbayan, Rm Kurris menerima tugas dari Provinsial untuk tinggal di Wisma Emmaus sebagai penulis kesejarahan, terutama yang terkait dengan sejarah Serikat Jesus di Indonesia.
Dari sekian banyak bukunya, Sang Jago Tuhan hendak ia lengkapi. Maka Rm Kurris kembali menjejakkan kakinya di tanah yang pernah ditelusuri oleh pendahulunya, Pater J.F. Le Cocq d’Armandville. Dan seperti Le Cocq sendiri, di tanah ini Rm Kurris menghadap Tuhan. Tampaknya Tuhan menghendaki Rm Kurris mendengar langsung kisah-kisah hidup dari mulut Pater Le Cocq sendiri di Surga. Pater Kurris, selamat jalan.
Misa Requiem
Ekaristi requiem diadakan pada di beberapa tempat :
| Kamis, 24 November 2011 | Kapel Le Cocq d’Armandville, Nabire |
| Jumat, 25 November 2011 | RSPAD Gatot Subroto, Jakarta |
| Sabtu, 26 November 2011 | RSPAD Gatot Subroto, Jakarta |
| Minggu, 27 November 2011 | Gereja St Stanislaus, Girisonta |
Pemakaman
Pemakaman dilangsungkan usai Ekaristi Requiem di Gereja St Stanislaus, Girisonta, 27 November 2011 di Taman Getsemani, Girisonta.