Lahir di Ambarawa, 11 April 1926, Romo Hardawiryana adalah putera dari (Alm) Bapak Nicolaus Sukahar dan (Alm) Ibu Francisca Sudarinah. Menempuh pendidikan dasar HIS Schakelschool di Ambarawa pada tahun 1932-1939; selepas dari HIS, Hardawiryana kecil melanjutkan pendidikannya di Seminari Menengah “diaspora” Yogyakarta-Mertoyudan pada tahun 1939-1945. Lulus dari Seminari Menengah, Romo Hardawiryana menempuh tahap pertama pembinaan sebagai Jesuit di Novisiat Girisonta 7 September 1945, dan meng-ucapkan kaul pertamanya pada 8 September 1947 di Muntilan.
Dua tahun juniorat ditempuhnya (1947-1948) di Yogyakarta, dan selanjutnya belajar filsafat pada 1948-1951 juga di Yogyakarta. Tahap Orientasi Kerasulan dijalaninya sebagai pengjar pada SGB Ambarawa (1951). Tahbisan rendah diterima pada 1951 di Yogyakarta dari tangan Mgr A Soegijapranata SJ. Ia memulai studi teologi pada 1953 di Canisianum, Maastricht; tahbisan subdiakon dan diakon di Maastricht pada 1956, dan tahbisan imamat pada 22 Agustus 1956 dari tangan Mgr J. Lemmens di St Servaas, Maastricht.
Tahap akhir pembinaannya sebagai Jesuit ditempuhnya dengan menjalankan tersiat dalam pendampingan Pater H. Kelly SJ di Rathfarnham Castle, Dublin selama satu tahun, September 1957-Agustus 1958. Pascatersiat ia ditugaskan belajar Teologi Sistematik di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma dan Institutum Biblicum, Roma; gelar Doktor Teologi Sistematik diraihnya pada 25 Januari 1961. Sejak saat itulah (1961) ia menjadi dosen Teologi Sistematik di Seminari Tinggi St Paulus, Kentungan, dan Fakultas Teologi Kolese St Ignatius, Yogyakarta. Di samping itu Rm Harda dipercaya menjadi Asisten Teolog di MAWI (sekarang KWI); dan menghadiri Sidang Konsili Vatikan II di Roma.
Akhirnya Rm Hardawiryana mengucapkan kaul akhirnya di hadapan Pater Leo Soekoto SJ pada 2 Februari 1963 di Yogyakarta.
Riwayat tugas dari kaul akhir sampai wafatnya
| Dosen dan praefectus studiorum Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan | Yogyakarta | 1961-1968 |
| Dosen di Kolese St. Ignatius (Kolsani) | Yogyakarta | 1961-1968 |
| Dosen Luar Biasa di Universitas Gadjah Mada (Agama dan Bahasa Latin) | Yogyakarta | 1961-sekarang |
| Rektor IFT (sekarang FTW), Kentungan | Yogyakarta | 1968-1991 |
| Dekan STKat “Pradnyawidya” | Yogyakarta | 1970 |
| Sekretaris PWI Seminari | Yogyakarta | 1970-sekarang |
| Staf harian Sekretaris Jenderal KWI | Jakarta | 1971-sekarang |
| Penasihat bidang teologi untuk KWI | Jakarta | 1973-sekarang |
| Anggota Commissio de Ministeriis Provinsi Indonesia SJ dan anggota dewan penasihat Provinsi Indonesia SJ | 1976 | |
| Anggota “Theological Advisory Commission” Konferensi para Uskup se-Asia (FABC) | 1990 | |
| Sekretaris Komisi Teologi, KWI | Jakarta | 1990 |
| Dosen Teologi Sistematik pada Seminari Tinggi St Mikael (Unika Widya Mandira) | Kupang | 1991 |
| Sekretaris Badan Kerja Sama Bina Lanjut para Imam Indonesia (BKBLII KWI/MASI) | Jakarta | 1992 |
Di samping tugas-tugas yang sudah disebutkan, Romo Hardawiryana masih juga disibukkan oleh berbagai kegiatan seperti menulis artikel dan makalah teologi dan moral sosial yang tersebar dalam aneka media (Majalah Orientasi, Rohani, Seri Puskat, Spektrum, dsb.), memberikan ceramah, prasaran, dan konferensi, menjadi dosen tamu baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai “guest-lecturer”, memberi bimbingan dan retret untuk para imam dan religius, membuat terjemahan, menjadi anggota lembaga internasional Jacques Maritain.
Beragam kiprah dan kegiatan yang ditunaikan oleh Rm Hardawiryana secara rapi terekam dalam risalah catatan pribadinya setebal 124 halaman yang diberinya judul “Karya Tulis dan Tugas Kegiatan Robert Hardawiryana, S.J. A.D. 1945-2000”. Rm Harda menyebut risalah ini sebagai “Auto-Bio-Biblio-Grafi” untuk mengenangkan “betapa melebihi 55 tahun yang lalu saya dipanggil memasuki Serikat Jesus, dan kini – pada waktu ditulisnya risalah ini, yaitu Pesta Bertobatnya St Paulus Rasul – boleh saya sadari ulang tahun saya menerima Bulla Kewisudaan seusai promosi disertasi Notio Praedicationis in Epistolis Paulinis pada Universitas Kepausan Gregoriana pada 25 Januari 1961.” Namun, buru-buru ditambahkan bahwa kumpulan risalah ini bukan seolah-olah merupakan sumber informasi mengenai riwayat rinci hidup, karya, dan kegiatannya; juga bukan sebagai alasan berbangga pamer prestasi atau ingin melestarikan reputasi. Rm Harda ingin secara setulus dan seutuh hati mengidungkan pujian Mazmur Daud: “Betapa mulialah nama Allah di seluruh bumi” (Mzm 8:2.10).
Bertahun-tahun Romo Hardawiryana tinggal di STFKat Pradnyawidya, namun jangkauan pelayanannya melebihi ruang sempit kamarnya. Serangan pertama stroke tidak mampu mematahkan semangatnya untuk terus mengabdikan hidupnya bagi komunitas intelektual dan Gereja di Yogyakarta, Indonesia, dan Asia pada umumnya. Hingga pada akhirnya Romo Hardawiryana mesti tunduk pada keterbatasan fisiknya dan menaati Provinsial yang mengutusnya ke Emaus untuk berdoa dan mendoakan Gereja dan Serikat. Ia menjadi anggota komunitas Emaus sejak 1 Desember 2004. Dan bukan Romo Hardawiryana kalau tidak mengisi hari-harinya dengan talenta yang Tuhan berikan kepadanya. Maka lengkingan dan desahan flute mulai mengisi sudut-sudut Girisonta. Barangkali flute yang sama telah mengantarkan Romo Hardawiryana ke hadapan Bapa. Sugeng tindak, Romo.
Ekaristi Requiem dan Pemakaman
Ekaristi requiem dirayakan pada Kamis, 12 Februari 2009 di Gereja St. Stanislaus Girisonta dan dilanjutkan dengan pemakaman.