Frater Purnama dilahirkan pada 22 Desember 1949. Ia masuk novisiat pada 5 Januari 1971. Ia menghabiskan masa novisiatnya di Girisonta. Dilanjutkan dengan studi filsafat di Jakarta (1973-1974). Lalu dengan studi teologi di Yogyakarta
Waktu di novisiat, ia mengalami luka kecil di lutut kirinya karena terjatuh waktu bermain sepakbola. Luka itu kemudian ternyata berubah menjadi bibit kanker yang berbahaya. Segala daya upaya dilakukan utnuk menolongnya. Beberapa kali di rawat di rumah sakit untuk menjalani operasi pada lutut. Untuk menyelamatkan bagian-bagian tubuh lainnya akhirnya dokter menyarankan operasi yang radikal yaitu amputasi.
Setelah amputasi, ia memaai protease dan melanjutkan hidupnya seperti biasa. Semua kegiatan dilakukannya secara penuh seperti kuliah, seminar, diskusi kelompok, observasi di gereja paroki, belajar bersama, dan ujian. Sementara itu rasa sakit di kakinya terus menerus mengganggunya. Sambil berjuang melawan rasa sakit, dengan kemauan keras berusaha menyelesaikan tugas belajar dan ujiannya. Ujian-ujian ditempuhnya dengan hasil memuaskan bahkan ia mendapatkan nilai terbaik di salah satu mata ujiannya.
Semuanya kiranya terdorong oleh cita-citanya untuk memenuhi panggilan Tuhan dalam martabat Imamat. Tahbisan Imam dan penyakitnya serasa kejar -mengejar dalam kehidupannya. Berbeda dengan teman-teman lainnya, ia diperbolehkan menyelesaikan studi filsafat dalam dua tahun dan kemudian terus melanjutkan studi teologinya. Jalan Imamatnya dipercepat. Pada saat-saat terakhirnya, atas permintaannya sendiri, ia masih sempat menerima Tahbisan rendah dari tangan Mgr. Leo Sukoto, S.J
Pada bulan-bulan setelah amputasinya, Purnama kelihatan segar bugar dan menjalankan tugas-tugasnya dengan penuh semangat dan gairah. Beberapa kali ia menjalani kontrol, dan menurut dokter hasilnya memuaskan. Tetapi Tuhan ternyata menghendaki yang lain.
Pada bulan April 1976, ia terserang penyakit batuk. Rupa-rupanya pengurbanannya dulu tidak membawa hasil seperti yang diharapkannya. Bibit-bibit kanker ternyata telah merambat ke paru-parunya. Selama lebih dari sebulan ia harus berbaring di rumah sakit lagi, sambil terus menerus bergulat dengan rasa sakit yang luar biasa. Akhirnya, pada tanggal 21 Mei 1976, Tuhan berkenan mengakhiri penderitaannya dan memanggilnya masuk ke dalam kebahagiaan abadi.