Pada hari Kenaikan Tuhan Yesus, 27 Mei 1976, Bruder Petrus (Piet) van der Voort meninggal. Kapel Kanisius penuh sesak waktu Misa Requiem dipersembahkan oleh Pater Provinsial. Sungguh suatu tanda jelas betapa Br. Piet dicintai.
Pada usia 23 tahun, ia masuk novisiat di Mariendaal (26 September 1917). Sebelumnya ia bekerja sebagai tukang pos / pengantar surat di kota kelahirannya Loosduinen (dekat Den Haag). Lima tahun kemudian ia dikirim ke Indonesia (1922). Sesudah bekerja di Jawa Tengah (Yogyakarta dan Muntilan), ia sampai di Kanisius, tempat ia menemukan tugas hidupnya. Hampir 43 tahun ia mengalami perkembangan Kanisius dengan segala suka dukanya. Urusan rumah tangga sehari-haru diserahkan kepadanya dengan seribu satu perkara yang rupanya kecil, tetapi yang toh penting sekali, supaya sebuah sekolah dan asrama dapat berjalan dengan lancar. Di samping itu ia menjadi Kepala Tata Usaha, yang berarti : mengunjungi kantor-kantor Pemerintahana untuk memperjuangkan subsidi dan gaji guru. Memang tugas yang tidak mencolok, tetapi menuntut perhatian terus menerus.
Di masa Jepang, Kolese harus dikosongkan. Bruder Pietlah yang mencari tempat-tempat dimana barang-barang dapat disimpan. Semuanya diselamatkan, bahkan sampai bangku-bangku kapel dan alat-alat laboratorium. Benar suatu pekerjaan raksasa! Lalu masuk ke kamp Jepang.
Pada tahun 1945ia terus kembali ke Kanisius untuk merebut kembali Kolese yang diduduki oleh tentara Inggris. Syukur waktu di kamp dipakainya untuk belajar bahasa Inggris sedikit-sedikit, dan terus dapat dimanfaatkan. Kelas per kelas direbutnya, dengan susah payah, dengan kesabaran, tetapi tegas.
Hubungannya dengan opsiropsir Inggris juga dipergunakannya untuk menolong anggota-anggota Serikat di Yogyakarta (Kolsani), yang pada waktu itu benar-benar kelaparan. Br. Piet selalu berada di Kemayoran Airport kalau pesawat-pesawat terbang dengan relief-goods tiba. Kalimat sederhana “Can I take it?” dengan menunjuk pada peti-peti bahan makanan ternyata sangat efektif, bahkan dengan pesawat barang-barang langsung diterbangkan ke Yogyakarta.
Seperti sebelum perang, ia bekerja lagi sampai ia merasa bahwa tugas itu harus diserahkan kepada tenaga yang lebih muda. Ia sudah berumur 75 tahun. Tetapi hidup yang aktif itu tidak dapat dinonaktifkan begitu saja. Sebagaimana dikatakan oleh Martha Graham (yang sudah berumur lebih dari 80 tahun sendiri) : “You only get old when you get bored” Kebetulan pada waktu ia menjadi sadar, bahwa ia memiliki suatu kepekaan untuk radiasi air, dan menjadi ahli wichelroede.
Kepandaian itu dipergunakannya untuk melayani sesama, mencari sumber-sumber air. Ratusan bahkan ribuan orang ditolong olehnya. Ia bahkan dibawa dengan pesawat terbang AURI untuk mencari air bagi proyek-proyek di Sumatera. Tetapi akhirnya pekerjaan itupun terlalu melelahkan dia (ternyata radiasi itu mempengaruhi badannya juga). Dengan mempelajari buku-buku ilmiah mengenai radiasi itu ia yakin bahwa radiasi itu mungkin menyebabkan macam-macam penyakit, antara lain kanker. Dan ia mencoba membuat suatu instrumen yang kiranya dapat menetralisir radiasi yang berbahaya itu.
Sampai akhir hidupnya ia tetap menaruh perhatian kepada apa saja yang terjadi di Kolese. Sering ia kelihatan pada suatu sore duduk di bangku serambi menonton pertandingan voli atau basket dari murid-murid. Pembangunan baru diikutinya dengan seksama, di sana sini memberikan nasehat yang praktis. Hidupnya terikat pada Kolese, dan oleh karena itu ia tidak mau pindah ke Emmaus.
Kalau kita mencari rahasia hidupnya, maka harus dikatakan bahwa sumber kegiatan-kegiatannya adalah hidup rohani yang kuat dan mendalam. Cinta kepada Tuhan, yang diekspresikan dalam cinta kepada sesama. Iman yang kokoh yang tidak dapat diguncangkan oleh aliran-aliran modern. Itu tidak berarti bahwa ia menutup diri untuk pembaharuan-pembaharuan di dalam Gereja. Ia sangat terbuka, tetapi ia selalu ingat akan nasehat St. Paulus : “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”
Dalam hal ini ia terus terang, tanpa tedeng aling-aling. Ia boleh disebut ciri wataknya yang utama : jujur, tanpa liku-liku, tanpa kedok atau fasade. Dan Ia mengharapkan sikap yang sama dari orang lain juga. Ia paling sakit hati dan kecewa, kalau ada orang yang mau menyalahgunakannya, yang mau menipu atau mempermainkan dia. Lalu ia bisa kehilangan kesabarannya, menjadi keras kepala. Itulah yang dihargai oleh orang-orang yang mengenalnya. Mereka tahu bahwa ia dapat dipercaya, bahwa janjinya akan ditepatinya.
Rasa humor tidaklah asing baginya. Waktu ia diberitahu bahwa sebaiknya ia menerima Sakramen Orang Sakit, ia menjawab : “Kke, maak het kort. Geen flauwe kul” (singkat saja, jangan bertele-tele). Pater Vroom yang sebagai Paderi Rumah Sakit Carolus, mulai upacara itu dengan menyebut bahwa 1,5 tahun yang lalu ia juga memberikan Sakramen itu, kontan dibetulkan oleh Bruder Piet : Bukan! 3 tahun yang lalu!. Ia masih sempat mengucapkan testamennya : bahwa hidupnya di dalam Serikat, terutama generasi muda. Hanya ada satu keluhan yang keluar dari mulutnya “Kok, lama betul saya harus tunggu dan saya sudah siap untuk dijemput Tuhan. Apakah tidak bisa lebih cepat?”
Kita kehilangan seorang teman yang akrab, yang hidupnya juga, yang wataknya mulia (inilah kata-kata dari Aman, pembantu utama di ruang makan Kanisius). Semoga Br. Piet sekarang diresapi oleh radiasi Ilahi.