Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Drijarkara dilahirkan pada 13 Juni 1913. Dari masa mudanya, ia merupakan anak yang pandai. Dapat terlihat dari beberapa peninggalan kecerdasannya sebagai anak. Nama madjalah “Aquila” adalah ciptaanya sendiri waktu ia masih belajar di Syntaxis. Aquila singkatan dari Augeamus Quam Impensissime Laudem Altissimi. Ia pandai berbahasa latin dan beberapa telah diterjemahkannya dalam bahasa Jawa.

Ketika masa pendudukan Jepang, semua profesor dari Seminari Tinggi ditawan. Frater Drijarkara yang kala itu sedang menjalani formasi TOK menjadi profesor filosofi. Ia menggambarkan teori-teori filsafat secara nyata dan sederhana. Selain itu, ia pun diminta untuk berceramah di depan orang tua-tua dan pelajar tingkat atas. Setiap orang yang mendengarkannya, selalu merasa terheran-heran akan kepintaran dan kecerdasannya.

Ketika Xaverius College ditutup, ia terpaksa harus belajar sendiri dalam mempersiapkan teologinya. Ia belajar sendiri di Seminari Tinggi hingga siap ditahbiskan menjadi seorang imam. Tahbisan Imam diterimanya pada 6 Januari 1947.

Setelah ditahbiskan menjadi Imam, ia dikirim ke Maastricht dan Roma untuk belajar dan menempuh Formasi Tersiat. Sepulang dari luar negeri ia langsung ditempatkan untuk menjadi pembimbing rohani maupun guru besar di Seminari dan Universitas. Banyak juga tulisan-tulisan yang ia tinggalkan terkait ilmu-ilmu yang ia pelajari dan dapat diteruskan.

Riwayat Penugasan PATER NICOLAUS DRIJARKARA, S.J setelah tersiat :

Teologi (pater) Maastricht, Belanda1947-1949
Tersiat (pater) Belgia 1949-1950
Studi (pater) Italia1950-1952
Tugas di Kolese St. Ignatius Yogyakarta1952-1958
Tugas di Jl. CodeYogyakarta1958-1961
Tugas di Sanata Dharma Yogyakarta1961-1963
di luar Indonesia (pater) Amerika1963-1964
Tugas di Sanata Dharma Yogyakarta1964-1966

Sejak Juni 1966, Pater Drijarkara semakin menurun kesehatannya. Lebih sering ia berada di ranjang sebagai pasien daripada mengajar di waktu ini. Bolak balik Rumah Sakit Carolus masih menjadi rutinitasnya. Walaupun begitu masih banyak yang menjenguknya. Hingga pada Februari 1977, setelah sehari sebelumnya menerima Minyak Suci, ia tidak sadar dan kondisinya semakin melemah. Banyak orang yang mendoakannya silih berganti hingga pada tanggal 11 Februari 1967, ia benar-benar pergi untuk selamanya.