Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Dari orang tua, Bapak Ramelan Tondowidagdo dan Ibu Kustini Tondowidagdo, Bruder Haryono lahir di Surabaya, 18 Mei 1937. Har kecil menempuh pendidikan dasar dan menengah di Klaten. Lulus SD pada 1949, kemudian melanjutkan ke SMP (1951-1957) dan SMA (1958-1961).

Br Haryono dengan senyum lebarnya masuk Serikat Jesus pada 7 September 1964 di Novisiat Girisonta. Kaul pertama ia ucapkan pada 8 September 1966 dan setelah itu menempuh formasi juniorat selama dua tahun dari 1966-1968 di Girisonta. Kaul akhir dalam Serikat Jesus diucapkannya pada 12 Desember 1977 di Kapel Universitas Sanata Dharma di hadapan P. Paulus Suradibrata, Provinsial.

Panggilannya sebagai bruder dihayatinya dalam beragam tugas di bidang kerumahtanggaan dan pendidikan. Sebagai bruder muda Haryono pernah dipercaya menjadi Kepala Rumah Tangga Pastoran Kotabaru, Yogyakarta (1969-1973); pengurus dapur Kolese St Ignatius, Yogyakarta (1972-1973). Br Har juga pernah ditugaskan belajar di SPSA, Yogyakarta (1969) dan belajar Bahasa Inggris di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (1973). Dan selepas itu ia ditugaskan mengajar Bahasa Inggris di Seminari Mertoyudan (1974-1975). Kemampuan berbahasa Inggris inilah yang kian ia pupuk dan menjadi salah satu kebanggaan yang diwujudkan dalam terjemahan-terjemahan artikel-artikel atau pertemuan-pertemuan bertaraf regional dan internasional.

Br Har mendapat tugas di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta (1979-1980); dan setelah itu ia kembali ditugaskan mengajar Bahasa Inggris untuk para novis Serikat Jesus di Novisiat St Stanislaus, Girisonta (1980) sekaligus di SMP Kanisius Raden Patah, Semarang (1980-1983). Provinsial menugaskannya membantu kerasulan pastoral berturut-turut di Paroki Ambarawa (1983-1989), Paroki Gamping (1989-1994), dan Paroki SS Petrus-Paulus, Klepu (1994-1999).

Serasa bermimpi, begitu katanya sewaktu menerima tugas keluar Jawa untuk melayani para tahanan politik (tapol) di Pulau Buru dan “mimpi” itu berulang ketika ia ditugaskan membantu di Seminari Menengah, Langgur (1970). Dan akhirnya, pada 2002 ia “terdampar” lagi di bagian timur Indonesia, berturut-turut di Waghete, Nabire, dan Sorong.

Br Har selalu kelihatan cerah setiap kali diajak bicara mengenai Anthony de Mello dan Sadhana-nya. Rupanya, peristiwa berjumpa dengan Anthony de Mello sewaktu tersiat di Girisonta (1976) itu demikian menggores kenangan indahnya. Dari Pater de Mello ia belajar “theraphy gestalt,” “Doa Sadhana,” dan pelepasan diri dari ketakutan menuju pada awareness. Ia melihat proses yang baik dalam tersiatnya di bawah bimbingan P. A. Soenarja.

Namun, pada akhirnya Br Haryono mesti tunduk pada keterbatasan fisiknya. Kondisi kesehatan fisiknya yang tidak terlalu baik mendorong Provinsial memanggilnya pulang dari Sorong ke Jawa (Girisonta) untuk mengelola perpustakaan Novisiat dan Pusat Spiritualitas Girisonta (Puspita). Jiwa pastoral tetap bernyala dalam hidup Br Har sedemikian hingga Pater Provinsial menariknya dari Girisonta ke Paroki St Yusup, Gedangan, Semarang untuk membantu pelayanan pastoral hingga minggu ke tiga Mei 2014. Di antara kegiatan pastoralnya Br Har rajin membaca-baca buku dan artikel, serta menyadurnya menjadi sebuah tulisan yang dibagikan kepada rekan-rekan nostri melalui internos, terbitan Jesuit Indonesia. Akhirnya, demi mempermudah dalam menjaga kesehatan, Br Har meminta untuk tinggal di Wisma Emmaus; dan bertugas menjadi pendoa bagi Gereja dan Serikat. Secara resmi, ia menjadi anggota Wisma Emmaus pada 20 Mei 2014. Pada tahun ini, 7 September 2014, Bruder Haryono merayakan 50 tahun di dalam Serikat. Pater Jenderal mengirimkan surat ucapan selamat dan berkat, yang diterima oleh Bruder dengan senyum lebar sebagaimana dulu ditunjukkan ketika ia masuk Serikat. Akhirnya, senyum yang sama telah mengantarkan Br Haryono ke hadapan Bapa pada hari ini.

Selamat jalan, Bruder.

Requiem dan Pemakaman

Ekaristi requiem dirayakan pada Sabtu, 29 November 2014 di Gereja St Stanislaus, Girisonta dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Makam Ratu Damai, Girisonta