” Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang” (1 Kor 9:19)
Neo Kardis lahir dt Nggejeg, Kediri Jawa Timur pada 10 Mei 1906 dalem keluarga dengan empat saudara laki-laki dan lima perempuan.
Sejak SD ia ikut pak lik, Bapak Leo Adipidjana, guru HIS, 1917-1925. Pada 28 Maret 1923 fe dibaptis df Gereja Kiduloji, Yogyakarta dengan nama Neo. Dari 1925-1927 ia ikut seminari menengah di Yogya tetapi akhirnya diusulkan pulang. Agak lama Ia mencari jalan hidupnya, mau menjadi guru atau katekis.
Pada September 1930 ia diterima sebagai postulan bruder di Serikat Yesus dan tinggal di Muntilan, Peda 10 Mei 1931 ia masuk novisiat, Setelah kaul pertama Br.Kardis ditugaskan di Kolese St.Stanislaus die Giri-Sonta sebagai kepala dapur. Tujuh tahun kemudian ia pindah ke Kolese St.Ignatius di Yogya dalam fungsi yang sama. Di Yogya ia juga ikut mengajar agama di stasi.
Pada 1940 ia pindah ke Muntilan, Selama masa jepang ia bekerja di pelbagai tempat: Muntilan, Magelang, Giri-~Sonta, Semarang, mencari makanan,mengurus kebutuhan romo,bruder,suster serta guru-guru. Dari 1947 sampai 1949 Br.Kardis menjiwai pembangunan Giri-Sonta serta sekolah-sekolah Kanisius sekitarnya. Demikian pula dari 1949-1953 di daerah Yogya dengan Kolese St.Ignatius sebagai pusatnya.
Ketika kemudian Seminari Mertoyudan di bangun, Br.Kardis pindah ke sana, pertama-tama untuk ikut memimpin pembanguan,kemudian untuk mengurus kebun serta peternakan. Pada saat itu ia
mendapat serangan tekanan darah tinggi yang pertama, Maka pada 1958 ia pindah ke Giri-Sonta lagi perlu istirahat. Pembangunan Emmaus dan Susteran di sana juga diawasi oleh Br. Kardis. Setelah empat tahun ia kembali ke Yogya, sekarang untuk berassistensi pada pembangunan Sanata Dahrma,1962-63. Disusul lagi dengan tugas istirahat lagi di Kolese de Britto, (1954-1966). Selama tiga tahun Br.Kardis menjadi minister rumah SJ di Bandung sekaligus membantu sebagai pengawas teknis di kompleks Rumah Sakit Borromeus, Pada tahun 1970 ia untuk ke empat kalinya ke Girisonta sebagai minster rumah serta pengurus kebun. Dua tahun kemudian dia ditempatkan di Seminari Tinggi Kentungan untuk istirihat dan sekadar ikut menasehati hal kebun. Ternyata ia akhirnya kuat lagi serta bekerja dengan penuh semangat lagi sampai usia 74 tahun.Karena pada Desember 1980 Br.Kardis masuk Giri-Sonta lagi,mula-mula sebagai pembantu hal kebun sampai pada usia 80 tahun lebih, akhirnya ia sungguh dan terpaksa mulai istirahat. Selama 55 tahun ia melayani dalam Serikat sebagai pengurus dapur, perawat orang sakit, katekis, pengurus kebun dan terutama sebagai pembangun. Dua tahun terakhir hidupnya kesehatan mundur sehingga ia kerap tak berdaya sampai ia dipanggil Tuhan pada 25 Agustus 1988 di RS Elisabeth Semarang