Br. Endradarsana dilahirkan pada 13 November 1908. Ia masuk novisiat Serikat Jesus pada 18 Maret 1932. Ia menghabiskan masa novisiat di Novisiat St. Stanislaus Kostka, Girisonta. Ia mengucapkan kaul terakhir pada 15 Agustus 1942.
| Rumah tangga (bruder) | Girisonta | 1934-1936 |
| Rumah tangga (bruder) – Kolsani | Yogyakarta | 1936-1943 |
| Pastoran Kumetiran | Yogyakarta | 1943-1952 |
| Pastoran Girisonta | Girisonta | 1952-1954 |
| Rumah tangga (bruder) | Girisonta | 1954-1958 |
| Rumah Tangga Pastoran Katedral | Jakarta | 1958-1961 |
Dalam waktu yang sangat pendek Br. Endradarsana telah meninggalkan dunia ini, dipanggil oleh Tuhan sebagai Bruder Jawa yang pertama, untuk dari surga dapat mendoakan tanah Misi ini.
Pada hari Jumat, 11 Agustus 1961, ia mendapat serangan leverbloeding yang memaksa ia dirawat di RS. Carolus, Jakarta. Sabtu sore tanggal 12 Agustus pukul 16.00, ia menerima Sakramen Perminyakan Suci. Ketika itu ia tenang sekali dan masih ada harapan tipis ia akan mengatasi krisisnya. Tetapi kemudian keadaannya semakin mengkhawatirkan dan semakin mundur. Pada Minggu, 13 Agustus 1961 pukul 17.39, ia meninggal dunia.
Semua saja yang mengenalnya tentu teringat bahwa ia adalah seorang yang rajin bekerja dan seorang yang menggunakan segenap tenaganya sebagai perluasan Kerajaan Allah.
Asal mulanya ia berniat menjadi seorang Imam, akan tetapi setelah beberapa tahun duduk di Seminari Menengah maka ternyata bahwa Imamat bukan panggilannya yang ditentukan Tuhan baginya. Maka ia lalu memilih untuk mengabdi Tuhan sebagai seorang bruder saja.
Waktu di Seminari Menengah ia pernah dipaksa oleh orang tuanya untuk meninggalkan seminari dan pulang ke rumah karena ia akan dinikahkan. Di rumah ia ditahan, diasingkan dari dunia luar, akan tetapi ia tetap tabah dan tetap setia kepada cita-citanya yang luhur itu.
Betapa keras ia bekerja! Dengan melupakan diri sendiri, ia telah mengurusi keperluan-keperluan rumah tangga. Keiistimewaannya ialah dalam memberikan pelajaran agama, hal ini memang sesuai dengan bakatnya. Lihatlah anak-anak yang begitu banyak jumlahnya mengelilingi ia di Pastoran Kumetiran.
Selama tahun-tahun perang ia bahkan banyak menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya adalah pekerjaan khusus untuk para Imam, misanya memberikan pelajaran/penerangan mengenai perkawinan.
Dengan tidak mengenal lelah, ia melakukan kewajibannya dengan menggunakan sepeda biasa. Pekerjaan-pekerjaan berat ini adalah sebab-musabab keseharan Br. Endra sudah begitu rusak padahal seharusnya masih belum waktunya. Badannya yang semua besar dan kuat, lambat laun berkurang. Belum begitu lama ia masih menjabat sebagai Manuductor di Girisonta. Setelah itu tahun-tahun terakhir ini ia bekerja di Katedral, Jakarta.
Dengan sungguh-sungguh segenap daya dan tenaganya telah dipergunakan agar supaya Tuhan lebih dikenali dan dicintai. Semoga hidupnya selalu menjadi contoh bagi kita.