Bruder Hardjasoekarto lahir di Purwokerto, 27 Desember 1927; putera pasangan (Alm) Bapak Michael Asran Hardjasoekarto dan (Alm) Ibu Roeminah. Menempuh pendidikan dasar di Yogyakarta dan lulus pada 1944; STMP dan SMTT pada 1947; mengambil kursus Sekolah Radio Tehnik sore hari selama tiga tahun (1946-1949) di Yogyakarta. Sebelum masuk Serikat Jesus Hardjasoekarto pernah bekerja di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada bagian masyarakat dan radio pada 1947-1949 di Yogyakarta.
Masuk Serikat Jesus pada 7 September 1950 di Novisiat Girisonta, dan kaul pertama pada 7 September 1952; dua tahun juniorat pada 1952-1954 di dua tempat, yaitu Girisonta dan Kolese Loyola Semarang. Kaul akhir diucapkannya di hadapan Pater Carolus Orie pada 15 Agustus 1961 di Gereja St Antonius, Kotabaru, Yogyakarta.
Panggilannya sebagai bruder dihayatinya dalam tugas-tugas sebagai pengurus rumah tangga komunitas Loyola Semarang (1953-1955), zieken broeder di Seminari Menengah Mertoyudan (1955-1958), pengurus rumah tangga di kolese de Britto Yogyakarta (1958-1959), koster Gereja Kotabaru sekaligus pengurus dapur Kolese St Ignatius, Yogyakarta (1960-1963), pengurus rumah tangga di Kolese Bellarminus (IKIP Sanata Dharma) seraya mengurus pajak kendaraan, tanah, imigrasi, kepolisian (tinggal di Bellarminus 1963-1974; tugas yang sama tetapi tinggal di komunitas de Britto 1975-1984), Pembantu Minister Kolese Bellarminus (1984-1992), menjadi Minister Kolese Bellarminus (1992) seraya masih melayani urusan perpajakan dan keimigrasian.
Bertahun-tahun Br Hardjasoekarto, yang lebih dikenal sebagai “Hardja Bagus”, – untuk membedakannya dari “Hardja-hardja” lain di Provindo ini – tinggal di komunitas Bellarminus, dengan jangkauan pelayanan yang luas. Tugasnya lain dari yang lain: melayani kaum religius baik pribadi maupun tarekat dalam urusan perpajakan dan imigrasi, SIM, STNK, yang berhadapan dengan institusi pemerintahan sipil. Br Hardjasoekarto suka mengumpulkan barang-barang bekas. Kita tidak akan heran bila masuk kamarnya dulu di Kolese Bellarminus, Mrican kita akan menyaksikan tumpukan tak beraturan perkakas-perkakas rumah tangga bekas: mulai dari peniti hingga knalpot motor tua dan kamera. Mengumpulkan dan mengurus barang bekas ini barangkali searah dengan pelayanannya yang “lain dari yang lain” itu, yang tidak dikerjakan oleh individu atau instansi tertentu.
Pada akhirnya Br Hardjasoekarto mesti tunduk pada keterbatasan fisiknya dan menaati Provinsial yang mengutusnya ke Emaus untuk berdoa dan mendoakan Gereja dan Serikat. Ia menjadi anggota komunitas Emaus sejak 1 Januari 2007. Senyum yang sama telah mengantarkan Br Hardjasoekarto ke hadapan Bapa. Selamat jalan, Bruder.
Requiem dan Pemakaman
Ekaristi requiem dirayakan pada Senin, 1 Agustus 2011 di Gereja St. Stanislaus, Girisonta dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Getsemani, Girisonta.