Dilahirkan pada 23 Februari 1930 di Tilburg, Pater Weitjens merupakan putra dari (Alm) J.F.M. Weitjens dan (Alm) Mathilde; menerima sakramen baptis di Besterd, Hertogenbosch (1930) dan penguatan di Marg. Maria, Hertogenbosch. Ia menempuh pendidikan gymnasium di Tilburg (hingga tahun 1948) dan pernah bekerja di Seminari Mertoyudan (1955-1958).
Masuk Novisiat Serikat Jesus pada 5 Januari 1949 di Mariendaal, Grave; dan mengucapkan kaul pertamanya pada 6 Januari 1951 di Girisonta, Ungaran. Tahun juniorat ditempuh selama dua tahun (1950-1952) di Girisonta, Ungaran.
Studi filsafat ditempuh selama tiga tahun (1952-1955) di Yogyakarta. Tahun orientasi kerasulan dilalui sebagai pengajar dan surveillant di Seminari Mertoyudan (1955-1958) dan menempuh studi Bahasa Perancis di Semarang (hingga tahun 1957).
Belajar teologi di Yogyakarta pada 1958-1962. Tahbisan tonsura dan tahbisan rendah diterimanya dari tangan Mgr. Willekens pada 24 Juli 1955 di Ambarawa; subdiakon dan diakon diterimanya dari tangan Mgr. Soegijapranata pada 15 dan 16 April 1961 di Yogyakarta; dan imam diterima dari tangan Mgr. Soegijapranata pada 22 Agustus 1961 di Yogyakarta. Setelah menerima tahbisan imamnya, Pater Weitjens melanjutkan studi teologinya hingga 1962. Pada 1963, menjalani tahap akhir pembinaannya sebagai Jesuit dalam tersiat di Girisonta, Ungaran hingga 1964 di bawah bimbingan Mgr. P. Willekens. Kaul akhir sebagai profess of four vows diucapkannya di hadapan P H. Loeff, S.J pada 2 Februari 1966 di Tilburg.
Banyak orang emenanti kunjungan Pater Weitjens. Ketika berkunjung, Pater Weitjens selalu hanya “mampir sebentar”, namun dia selalu menyapa dari hatinya. Meski asli Belanda, dia spontan berbicara bahasa Jawa. Ia menguasai banyak bahasa dan dalam setiap bahasa ia selalu mempunyai kata yang spontan, jujur, dan hidup. Pater Weitjens memperagakan bagaimana Allah menyapa setiap orang.
Sejarah adalah keahlian dan profesi Pater Weitjens. Tahun 1966, dia meraih gelar doktor dalam sejarah Gereja. Selama 30 tahun ia menerangkan bagaimana dari kelompok para rasul tumbuh Gereja-Gereja Kristiani di seluruh dunia. Pater Weitjens prnah menyunting sebuah buku mengenai “Seratus tahun misi di Indonesia”, dan ia senang menulis artikel riwayat hidup misionaris-misionaris dari abad yang lalu. Karangannya sendiri tidak banyak, namun ia sangat membantu bayak orang yang mencari bagaimana iman menjadi berakar di tanah air kita.
Tiga puluh tahun Pater Weitjens menjadi dosen di Fakultas Teologi dan mengampu Sejarah Gereja empat atau enam jam seminggu; tak pernah kosong. Dia tidak pernah menjadi dekan fakultas, wakil pun juga tidak. Dia juga bukan dosen tersohor. Kuliahnya biasa-biasa saja, tanpa pretensi tinggi. Namun, berkat kehadirannya, Fakultas Teologi di Kentungan menjadi almamater, “ibu yang senantiasa menghidupi,” bagi para mahasiswa dan para alumni.
Riwayat penugasan :
| Dosen Sejarah IFT | Yogyakarta | 1967-1997 |
| Archivarist Provinsi | 1985-1997 | |
| Pastor Pembantu Paroki Klepu | Yogyakarta | 1997-wafat |
Pater Weitjens meninggal 21 Agustus 1998 dan dimakamkan di Taman Getsemani, Girisonta, Ungaran.