Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Dilahirkan pada 19 September 1919 di Amsterdam, Pater Groenewoud merupakan putra dari (Alm) Johannes Theodorus Groenewoud dan (Alm) Maria Catharina Evers; menerima sakramen baptis di Vincentius Paulo, Amsterdam (1919) dan penguatan di tempat yang sama. Ia menempuh pendidikan dasar di Amsterdam (1925-1931), pendidikan menengah pertama di Amsteram (1931-1933) dan kemudian beralih ke Gymnasium A di Amsterdam (1933-1938).

Masuk Novisiat Serikat Jesus pada 7 September 1938 di Mariendaal, Grave. Ia tiba di Indonesia pada 1940, sebelum perang kemerdekaan dan mengucapkan kaul pertamanya pada 8 September 1938 di Girisonta, Ungaran. Tahun juniorat ditempuh selama dua tahun (1940-1942) di Girisonta, Ungaran.

Studi filsafat ditempuh selama tiga tahun (1944-1947) di Yogyakarta dan internir di Kamp Benteng, Kamp Pondong, dan Cimahi. Tahun orientasi kerasulan sebagai guru seminari di Ganjuran (1947-1948), Muntilan (1948-1949), dan Yogyakarta (1949).

Belajar teologi di Maastricht pada 1949-1953. Tahbisan tonsura dan tahbisan rendah diterimanya dari tangan Mgr. Soegijapranata pada September 1947 di Yogyakarta; subdiakon diakon di Maastricht pada 1950; dan imam diterimanya dari tangan Mgr. G. Lemmens pada 22 Agustus 1951. Setelah menerima tahbisan imamnya, Pater Groenewoud melanjutkan studi teologinya hingga 1953; dan pada September tahun yang sama menjalani tahap akhir pembinaannya sebagai Jesuit dalam tersiat di Wepion hingga Juli 1954 di bawah bimbingan P Dierks, S.J. Kaul akhir sebagai profess of four vows diucapkannya di hadapan P Th v.d. Putten pada 2 Februari 1956 di Mertoyudan.

Pater Groenewoud adalah pribadi yang tegar. Ia buktikan dengan usaha-usaha yang setia, tekun dan teliti dalam mengajar bahasa Latin di Seminari Mertoyudan. Buku Elementa jilid I, II, dan III diterbitkannya. Kekecewaan dialami pada tahun 1967 sebelum buku Elementa IV bisa diterbitkan, ia mendapat tugas baru untuk bekerja di Paroki Gedangan, Semarang, kemudian di Purbayan, Solo.

Ketika dia masuk Emmaus pada tahun 1996, mendapat kesan: dia adalah orang yang dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan tugas dan keadaan baru, termasuk tugas terakhirnya. Teladannya membentuk pribadi mereka para seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan. Keyakinannya dirumuskan: “Aku ditangkap Yesus, untuk menjadi penyalur kasih setia-Nya. Dalam melaksanakan tugas-tugas di Paroki dijalankan dengan sangat baik. Hidup devosi dilaksanakan dengan penuh kesungguhan hati. Devosi Bunda Maria berpengaruh dalam bagi hidup pribadi dan sesama, demikian pula devosi Hati Kudus Jesus.

Riwayat Penugasan :