Romo Joannes Bakker atau dikenal Romo Jan Bakker, lahir di Amsterdam 3 Juli 1916, putera bungsu dari keluarga besar. Ayah dan neneknya terkenal sebagai pandai emas sejak beberapa generasi. Masih duduk di bangku sekolah dasar sudah kentara hobinya: membaca buku. Sesudai selesai studi gymnasium di Kolese Santo Ignatius, Amsterdam, ia masuk Novisiat Jesuit, dan setahun kemudian, pada bulan Agustus 1936 bersama 4 rekan novis, ia naik kapal menuju tanah airnya yang baru.
Di Girisonta dulu ia menyelesaikan Novisiat dan Juniorat, lalu pindah ke Kotabaru untuk belajar Filsafat. Belum lama selesai studi dan baru mulai mengajar di Muntilan, frater Jan Bakker bersama semua misionaris Belanda mulai mengalami kamp interniran Jepang. Masa yang pahit itu ia pergunakan sebaik-baiknya, dan di bawah bimbingan Prof C.C. Berg dan ahli-ahli lain teman kamp, Romo Bakker mempelajari bahasa Jawa Kuno, Arab, Sansekerta, dan sejarah tanah air kita. Daya ingatannya menakjubkan semua orang.
Jepang kalah, Republik diproklamirkan. Para frater bisa keluar dari kamp dan melanjutkan studi teologi di Maastricht, Belanda, di mana Romo Bakker ditahbisakan imam pada pesta Bunda Maria, 8 Desember 1948.
Dua tahun kemudian Romo Jan Bakker kembali ke Indonesia mulai mengajar di Girisonta, permulaan karier sebagai dosen dan pengarah sekana ganour tiga puluh tahun disela satu tahun menjadi Pastor Boro (1951-1952). Naik bukit, turun bukit, mengunjungi segala stasi, mempersembahkan misa kudus di pelosok-pelosok dan membawa kabar Injil kepada umat katolik di pengunungan Menoreh. Romo Bakker senang sekali akan pekerjaan ini dan selalu suka pergi ke Boro atau Kokap untuk asistensi Natal atau Minggu Adi.
Hanya satu tahun Romo Bakker bekerja di Kulon Progo, lalu sesudah tersiat di Australia, ia kembali ke Girisonta menjadi guru bagi para Novis dan Juniorat: sejarah dan kebudayaan Indonesia, bahasa klasik, islamologi, di samping tugas sebagai dosen di Semarang dan Yogyakarta.
Tahun 1967 melihat Romo Bakker di IKIP Sanata Dharma, tetapi satu tahun kemudian ia sudah pindah ke Kolese St. Ignatius yang akan menjadi tempat kediamannya sampai hari terakhirnya. Tugas pokoknya ialah mengajar di Institut Filsafat Teologia dan di IKIP Sanata Dharma: Ilmu Perbandingan Agama, Filsafat Hindu dan Islam, Sejarah Timur Tengah, dan tentu masih ada yang kami lupakan.
Belum kami sebut semua buku dan karangan yang ditulisnya, semua ceramah dan prasaran yang diberikannya, semua skripsi dan paper yang dibimbingnya. Tuhan saja yang mengerti berapa orang yang ditolong oleh Romo Bakker selama sekian tahun, dari uskup-uskup di MAWI sampai mahasiswa-mahasiswa dari pelbagai lembaga pendidikan. Ada orang minta pertolongan Romo Jan Bakker, ia tidak bisa sampai hati untuk menolaknya, walupun ia sudah dibebani tugas lain entah berapa.
Suatu hidup yang memperkaya banyak orang, hidup yang berdasarkan dan beralaskan iman yang kokoh. Seorang hamba yang baik dan setia. Tuhan mempercayakan lima talenta kepada Jan Bakker, dan ia telah beroleh laba lima talenta. Tengah-tengah kesibukan, waktu ia memimpin ekskursi para seminaris tingkat ke-2 ke Candi Prambanan dan Plaosan, Romo Bakker dipanggil Tuhan: masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuhanmu.