Indradi Indrakarjana lahir ada 31 Januari 1918 di kemalang, Klaten dari keluarga katolik. Pada 1 Desember 1918 beliau dipermandikan dengan nama Franciscus Xaverius.
Setelah mengikuti SD di Klaten (1924-1930), beliau pindah ke Muntilan (1930-1931). Kemudian ia belajar di MULO di Yogyakarta (1931-1932) dan melanjutkan ke Seminari Menengah Mertoyudan (1932-1939).
Masuk Novisiat Serikat Jesus pada 7 September 1939 di Girisonta, Ungaran; dan mengucapkan kaul pertamanya pada 8 September 1941 di Girisonta, Ungaran. Tahun Juniorat ditempuh selama dua tahun (1941-1943) di Girisonta, Ungaran.
Studi Filsafat belum bisa dimulai selama masa perang jepang. Oleh karena itu ia ditugaskan dulu sebagai pamong di seminari menengah, kemdian sebagai bapak asrama di rumah yatim-piatu St.Vincentius di Jakarta (1944-1946). Masih dalam masa diaspora, ia memulai filsafat di Semarang dan melanjutkan dengan lebih teratur di Yogyakarta (1947-1949). Karena beliau sudah kehilangan banyak waktu karena situasi perang, studi teologi terus dimulai setelah filsafat. Untuk itu beliau berangkat ke negeri Belanda dan menjalani studi teologi (1949-1953). Tahbisan tonsura dan tahbisan rendah diterimanya dari tangan Mgr. Soegijapranata pada 1 Juli 1949 di Yogyakarta; subdiakon dan diakon diterimanya dari tangan Mgr. Hanssen pada 25 dan 26 Mei 1952 di Maastricht; dan imam diterianya dari tangan Mgr. Lemmens pada 22 Agustus 1952 di Maastricht. Kembali ke tanah air beliau mengikuti tersiat yang pertama di Indonesia di bawah bimbingan Mgr. P. Willekens di Girisonta (1953-1954). Kaul akhir sebagai coadjutor spiritualis diucapkannya pada 2 Februari 1959 di Katedal, Jakarta.
Riwayat penugasan :
| Pastor Pembantu Paroki Katedral | Jakarta | 1954-1965 |
| Pastor Pembantu Paroki Kebayoran Blok B | Jakarta | 1965-1968 |
| Pastor Pembantu Paroki Mangga Besar | Jakarta | 1968-1977 |
| Pastor Pembantu Paroki Katedral | Jakarta | 1978-wafat |
Beberapa tahun terakhir dalam hidupnya, ia menderita karena kurang dapat mendengar dan penglihatannya yang mulai terganggu. Meskipun demikian, ia tetap ingin berkaul dengan umat Jakarta yang boleh dilayaninya selama 36 tahun. Ia meninggal dunia pada 17 Desember 1990 dan dimakamkan di Taman Makam Ratu Damai, Girisonta.