Kita mendapat banyak pantulan tentang satu sosok pribadi Pater H Suasso de Lima de Prado. Memang, Pater Suasso sangat terlibat di berbagai ranah: dari ranah teologi, kitab suci, hingga urusan yayasan dan administrasi sekolah, formasi dan retret, juga kerasulan menulis di kawasan teologi dan filsafat. Dari sosok seorang romo yang berjalan kaki hingga romo yang di masa senjanya setia dengan BMW kodok-nya. Dari figur yang aktif terlibat hingga diam dalam keheningan batin selama beristirahat di Wisma Emmaus, Girisonta. Berangkat dari hal-hal ini, kita menemukan mutiara hidupnya: kegembiraan yang memancar dari kedalaman doa-doanya.
Lahir di Amsterdam, 17 Agustus 1917, Pater H Suasso de Lima de Prado adalah putera dari (Alm) Bapak Josephus Johannes dan (Alm) Ibu Johanna Catharina Bruns. Menempuh pendidikan dasar Lagere School di Amsterdam (1924-1930), dan melanjutkan ke Gymnasium A pada Kolese Ignatius di Amsterdam (1930-1936).
Bersama dengan 24 kawan seangkatan, remaja Suasso masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariëndaal pada 7 September 1936. Pater Magister menantangnya dengan pertanyaan apakah Frater Novis Suasso siap untuk pindah ke Indonesia. Penegasan Roh dalam doa, perbincangan dengan Pater Magister, serta membuka wawasan dengan membaca khasanah tentang Indonesia pada akhirnya mengantarkan Frater Novis Suasso pada kesediaan untuk diutus ke Tanah Misi Indonesia. Kedua orangtuanya merasa berat bahwa mereka harus berpisah dari putra mereka. Namun, pada akhirnya mereka mengizinkan putra mereka berangkat. “Itu membuat saya lebih menyadari bahwa orangtua pada umumnya juga ikut membawa korban-korban dari jalan yang disediakan Tuhan bagi anak mereka,” demikian tulis Pater Suasso dalam catatannya. Pada 15 Agustus 1937, dua hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-20, Frater Novis Suasso berlayar ke Indonesia, dan mendarat pada September, disambut oleh frater novis A. Soenarja, T. Wignjasoepadma, C. Harsosuwito, S. Bratasoeganda, dan W. Mooi-Wilten (Willy Mooi). Bersama rekan-rekan novis yang lain Frater Suasso mengucapkan kaul pertamanya pada 8 September 1938 di Novisiat Girisonta, Ungaran, dilanjutkan tahun juniorat (1938-1939) di Girisonta. Setelah itu Frater Suasso menempuh studi filsafat di Yogyakarta selama 3 tahun (1939-1942).
Tahap orientasi kerasulan dijalani Frater Suasso di Yogyakarta (Kolsani) sebagai pemimpin kantor Yayasan Kanisius yang mengelola sekolah-sekolah (1942-1943). Frater Suasso menempuh studi teologi di Maastricht (1946-1950), dan meraih master teologinya di kota yang sama.
Dari tangan Mgr A Soegijapranata SJ Fr Suasso menerima tahbisan tonsura dan tahbisan rendah di Muntilan pada 1942. Tahbisan diakon dari tangan Mgr Hansen di Maastricht pada 18 Mei 1948, dan tahbisan imam pada 8 Desember 1948 di Maastricht dari tangan Mgr G Lemmens. Sebagai imam muda dan belajar teologi, Pater Suasso ditugaskan menjadi asisten di Krijtberg, Amsterdam. Tersiat dijalaninya pada 1950-1951 di Wépion, Belgia di bawah bimbingan P Dirks SJ. Usai studi tersiat, Pater Suasso diutus untuk belajar Kitab Suci di Pontificio Istituto Biblico, Roma (1951-1954), dan lisensiat Kitab Suci (1953). Mendapat tugas sebagai vice-minister pada sekolah teologi Maastricht (1954-1955). Provinsial hendak menugaskan Pater Suasso kembali ke Indonesia, namun “karena adanya tegangan politik, orang Belanda tidak diberi visum untuk masuk,” demikian ditulis oleh Pater Suasso.
Bagaimana akhirnya Pater Suasso bisa kembali ke Indonesia?
“Waktu itu Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta, dan merasa sangat senang. Maka ia memanggil seorang suster, ‘Sebagai tanda terima kasih, saya ingin memberikan sesuatu. Minta saja dan akan saya berikan.’ Suster menghadap Mgr. A. Soegijapranata yang menceriterakan bahwa di Belanda ada seorang dosen yang perlu masuk ke Indonesia, namun terhalang oleh kondisi politik hubungan Indonesia-Belanda. ‘Mintalah saja izin untuk dosen itu,’ kata Rama Kanjeng. Maka pada 1954 visa diterbitkan untuk Pater Suasso; visa ditandatangani oleh Presiden Soekarno sendiri.
Pater Suasso mengucapkan empat kaul terakhir dalam Serikat pada 2 Februari 1954 di hadapan Pater Jenderal Janssens SJ.
Riwayat tugas dari kaul akhir sampai wafatnya
| Profesor Kitab Suci Seminari & Teologi S.J. | Yogyakarta | 1955-1964 |
| Profesor Liturgi | Yogyakarta | 1955-1958 |
| Pembimbing rohani dan vice Rektor Seminari Tinggi dan | ||
| Teologi Serikat Jesus | Yogyakarta | 1955-1958 |
| Rektor Seminari Tinggi, Wakil Ketua PWI Bid. Seminari | Yogyakarta | 1959-1962 |
| Profesor Kitab Suci pada IFT Kentungan | Yogyakarta | 1964 |
| Pastor RS Panti Rapih Yogyakarta, Moderator UAJY | Yogyakarta | 1973-1977 |
| Rektor Asrama Realino Yogyakarta | Yogyakarta | 1975-1981 |
| Rektor Kolese Bellarminus | Yogyakarta | 1981-1986 |
| Minister, Pembimbing Rohani, dan Konsultor de Britto | Yogyakarta | 1986-1997 |
| Ketua Proyek Pembangunan Perpustakaan Kolsani | Yogyakarta | 1989 |
| Anggota Yayasan Sanata Dharma | Yogyakarta | 1997- |
| Pendoa bagi Serikat Jesus dan Gereja | Girisonta | 2010-wafatnya |
Di samping tugas-tugas yang sudah disebutkan, Pater Suasso masih disibukkan oleh aneka kegiatan: menjadi editor Orientasi, menulis artikel dan makalah teologi dan filsafat yang tersebar dalam aneka media (Majalah Orientasi, Rohani, Bydragen Neerlandiae Provinciae Societatis Jesu de Linie, Verbum, dsb.), memberikan retret bagi skolastik Jesuit serta religius lain, memberikan up-grading course bagi imam-imam, suster dan bruder, up-grading Kitab Suci bagi dosen-dosen UGM, kursus Kitab Suci, dsb. di beberapa kota Indonesia, termasuk mengajar di Seminari Tinggi Pineleng. KWI (d.h. MAWI) memercayai Pater Suasso untuk menjadi Sekretaris Seksi Seminari, dan Uskup Agung Semarang meminta kebesaran hatinya untuk menjadi pemeriksa Yayasan Slamet Riyadi.
Meski ahli dan terlatih dalam bidangnya, Pater Suasso tak pernah lelah untuk memperdalam, menyegarkan dan memperluas khazanah pengetahuan dan pengalamannya dengan aneka kursus, rapat baik dalam negeri maupun luar negeri. Rupanya itulah yang menyemangati hidupnya hingga mencapai usia 95 ini. Di mana pun ditugaskan, Pater Suasso senantiasa terlibat penuh.
Semasa di Wisma Emmaus Girisonta Pater Suasso meluangkan waktu istirahatnya untuk menulis sebuah naskah yang bertajuk “Panggilan untuk Melanjutkan Perjalanan Yesus di Dunia Sekarang.” Tulisan ini berisi tentang catatan sejarah hidupnya. Dituangkannya momen-momen berharga, termasuk peristiwa dimasukkan ke dalam bui oleh militer Jepang di Benteng Yogya (1944), dan kamp militer Jepang di Cimahi (1945), dan sepulang dari Cimahi ditahan oleh sekelompok pemuda Indonesia.
Pemakaman
Ekaristi requiem diadakan di Gereja St. Stanislaus Girisonta pada Sabtu, 27 Oktober 2012 dan dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Getsemani, Girisonta.