Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Sederhana. Murah senyum. Barangkali itulah kesan umum yang ditangkap banyak orang pada sosok Pater van Opzeeland, atau lebih akrab disapa Romo Henk. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik kesederhanaan dan keramahannya tersimpan pengalaman dan pergulatan yang kaya dalam banyak hal di berbagai ranah kerasulannya sebagai Jesuit. Wilayah pelayanannya terentang luas di bidang formasi, pastoral, pendidikan menengah dan tinggi, keyayasanan, keuangan, gubernasi, kerohanian, dan media komunikasi. Padahal, Romo Henk, yang lahir di Rotterdam, 28 Mei 1929, dari pasangan suami-istri (Alm) Bapak Wilhelmus J. van Opzeeland dan (Alm) Ibu Hendrica van Schendelen van Opzeeland ini menempuh jenjang pendidikan formal di sekolah pada umumnya atau dengan kata lain tidak belajar ilmu tertentu secara khusus. Pendidikan dasar MULO ditempuhnya di Rotterdam (1943-1945), dan sesudah itu pendidikan menengah di Schola Carolina di Den Haag (1945-1947).

Demikian pula pembinaan sebagai Jesuit dijalaninya secara normal. Masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariƫndaal pada 7 September 1947; pada 29 Januari 1949 frater novis Henk menginjakkan kakinya di bumi misi Indonesia; dan mengucapkan kaul pertamanya pada 8 September 1949 di Novisiat Girisonta, Ungaran, dilanjutkan tahun juniorat (1949-1951) di Girisonta. Setelah itu Frater Henk menempuh studi filsafat di Yogyakarta selama 3 tahun (1951-1954).

Tahap orientasi kerasulan dijalani Frater Henk di Seminari Menengah St Petrus Canisius, Mertoyudan sebagai surveillant pada 1954. Baru enam bulan di Mertoyudan Frater Henk jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RS Panti Rapih, Yogyakarta selama hampir satu tahun (1955-1956). Pulih dari sakitnya Frater Henk kembali menempuh Tahap Orientasi Kerasulan, kali ini sebagai pengasuh Majalah Basis dan Spirit (1956-1957). TOK selesai, dan ia ditugaskan menempuh studi Teologi di Kolese St Ignatius, Yogyakarta (1957-1961).

Dari tangan Mgr. A. Soegijapranata, S.J. Fr Henk menerima berturut-turut tahbisan rendah (24 Juli 1954, di Ambarawa), subdiakon (28 April 1960 di Yogyakarta), diakon (29 April 1960 di Yogyakarta), dan imam (22 Agustus 1960 di Yogyakarta).

Setahun sebagai imam muda Henk masuk tahap Tersiat di Girisonta dalam bimbingan Mgr P. Willekens, S.J. (September 1961 s.d. Juli 1962). Romo Henk akhirnya mengucapkan kaul terakhirnya dalam Serikat pada 2 Februari 1965 di hadapan Pater Jonckbloedt, S.J. di Girisonta.

Riwayat tugas dari kaul akhir sampai wafatnya

Socius Magister NovisiatGirisonta1962-1966
Formasi para BruderGirisonta1962-1966
Pastor Kepala Paroki SS Petrus-PaulusMangga Besar, Jkt.1966-1968
Pastor Kepala Paroki St Alfonsus, PademanganJakarta1968-1973
Direktur STM Perk. StradaJakarta1968-1974
Pastor Kepala Paroki KatedralJakarta1974-1976
Anggota Concilium Pastorale 1975
Direktur Nasional Kerasulan Doa & Penanggung Jawab Majalah UTUSAN 1975-1980
Sekretaris Keuskupan Agung JakartaJakarta1976-1982
Superior Nostrorum JakartaJakarta1977-1984
Ekonom Keuskupan Agung JakartaJakarta1984-1991
Pembimbing Rohani Kolese St Ignatius (Kolsani)Yogyakarta1991-2000
Dewan Pembina PenPer KanisiusYogyakarta1994
Sekretaris Yayasan Karya Bakti SurakartaSurakarta1996-2009
Anggota Badan Pengurus Yayasan Kanisius 1996
Ekonom Kolese St Ignatius (Kolsani)Yogyakarta2003
Bendahara Badan Pengurus Yayasan Karya ATMICikarang2003
Bendahara Umum Yayasan Sanata DharmaYogyakarta1993-2014
Admonitor Rektor Kolese St Johanes de BrittoYogyakarta2005
Pendoa bagi Gereja dan SerikatGirisonta2018-wafatnya

Romo Henk sungguh terlibat dalam setiap karya yang dipercayakan kepadanya. Formasi yang wajar sebagai Jesuit telah membentuknya menjadi pribadi yang ekstraordiner dalam hal ketekunan, ketelitian, efisiensi, efektivitas, dan kemampuan menjaga ausdauer atau daya tahannya. Ketelitiannya di bidang keuangan dikagumi banyak orang. Ia pun dikenal gigih menggalang dana bagi banyak proyek pembangunan gedung dan prasarana kerasulan. Ia juga dikenal sebagai seorang pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sabar mendengarkan mereka yang datang kepadanya. Ia menyediakan waktu, perhatian dan energinya untuk menyadari dan menemukan Allah yang menyatakan keinginan dan kehendak-Nya dalam diri mereka yang dibimbingnya.. Dalam teladan kesederhanaan, kerendahan hati dan kesabarannya untuk mendengarkan, seluruh Provinsi Indonesia, bersama-sama dengan setiap orang dan karya yang merasakan keterlibatan Rm. Henk, patut bersyukur atas rahmat Tuhan yang disalurkan dalam diri Rm. Henk.

Misa Requiem & Pemakaman

Ibadat Pelepasan Jenazah dilakukan pada 19 Juni 2019 di Wisma Emmaus. Dilanjutkan dengan Misa Requiem di Gereja St. Stanislaus Kostka, Girisonta dan pemakaman di Taman Makam Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran.