Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Dilahirkan pada 18 Juli 1943 di Yogyakarta, Pater Sabdautama adalah putra dari (Alm) Bapak Prawirosuprapto dan (Alm) Ibu Monica Nati; menerima sakramen baptis di Bintaran, Yogyakarta (12 September 1957); dan penguatan di Kumetiran, Yogyakarta (12 September 1957). Ia menempuh pendidikan menengah di Yogyakarta (1960-1964), dan dilanjutkan masuk Seminari Mertoyudan (1964-1967).

Masuk Novisiat Serikat Jesus pada 5 Januari 1968 di Girisonta, Ungaran; dan mengucapkan kaul pertamanya pada 6 Januari 1970 di Girisonta, Ungaran.

Studi filsafat selama 1 tahun (1970-1972) di STF Jakarta. Tahun orientasi kerasulan sebagai subpraefect di Mertoyudan (1973).

Belajar teologi selama tiga tahun (1973-1975) di Yogyakarta. Menerima tahbisan diakon dari tangan Kardinal Darmayuwana pada 17 September 1975 di Yogyakarta; dan imam dari tangan Kardinal Darmayuwana pada 3 Desember 1975 di Yogyakarta. Setelah menerima tahbisan imam, Pater Sabdautama mendapatkan beberapa penugasan dan kemudian menjalani tahap akhir pembinaan sebagai Jesuit dalam tersiat di Manila mulai September 1981 di bawah bimbingan P Th O’Gorman hingga April 1982. Kaul akhir sebagai coadjutor spiritualis diucapakannya pada 30 Juli 1984 di STF Driyarkara, Jakarta.

Riwayat penugasan :

Pendidik di Kolese De BrittoYogyakarta1977-1979
Tugas Pastoral di PadangPadang1980
Bertugas di Paroki PurbayanSurakarta1981
Bertugas sebagai pater Unit Pulomas dan pembimbing rohani para Frater Kolese HermanumJakarta1983-1986
Bertugas di STF DriyarkaraJakarta1987
Bertugas di Kolese De BrittoYogyakarta1988-1990
Bertugas di Kolese IgnatiusYogyakarta1991
Bertugas di Paroki KotabaruYogyakarta1992-1993
Bertugas di Paroki Kotabaru, tinggal di Kolese IgnatiusYogyakarta1994-1996
Bertugas dan tinggal di Paroki KotabaruYogyakarta1997-2000
Pendoa bagi Serikat Jesus dan Gereja di Wisma EmmausGirisonta2001-wafat

Ketika di Kolese de Britto, dia dikenal sebagai seorang pendidik yang menanamkan nilai-nilai kebebasan, tanggung jawab, dan kejujuran. Bersama dengan rekan-rekan Jesuit beliau selalu mengajak untuk mengutamakan peranan awam dalam mengelola kolese-kolese SJ.

Beliau juga pernah berkarya di Jakarta selama kurang lebih 4 tahun ditengah para Jesuit muda dengan berbagai macam ide, yang dapat membawa suasana menjadi baru dengan nilai kebebasan dan tanggung jawab, sehingga para frater merasa didampingi.

Pada tahun 1991 Romo Sabdautama mulai mengalami sakit, hal itu terjadi setelah beliau mengakhiri masa tugasnya di Kolese de Britto sambil menunggu penugasan resmi sebagai Pastor Pembantu di Paroki St. Antonius, Purbayan, Surakarta. Beliau sungguh gigih dalam mengupayakan kesembuhannya agar dapat menjalankan tugas pelayanannya. Akhirnya, belaiu dapat melaksanakan kembali tugas pelayanannya. Selama tinggal di Pastoran Kotabaru dan Kolese St. Ignatius, Yogyakarta, beliau mengajak para penderita stroke untuk selalu optimis dan mempunyai keinginan untuk sembuh, karena itu beliau berhasil mengumpulkan rekan-rekan penderita stroke untuk saling meneguhkan dan menguatkan. Pada tahun 1994, beliau masih bercerita tentang perjuangan dan keberhasilan untuk sembuh dengan banyak senyum, sambil duduk di atas sepeda motornya.

Setelah 10 tahun beliau bertahan melayani umat di medan karya dalam perjuangannya melawan stroke, beliau harus ditarik dan tinggal di Wisma Emmaus, Girisonta. Pada hari Jumat, 29 November 2002, beliau masih berusaha mencoba berolahraga dan selalu tersenyum. Pada malam harinya beliau pingsan dan dibawa ke RS St. Elisabeth. Pada hari Minggu, 1 Desember 2002, Rm. Sabdautama dipanggil Tuhan dengan tenang pada jam 10.45.

Misa requiem hari Senin tgl. 2 Desember 2002 di Gereja St. Stanislaus, Girisonta Bergas Ungaran dilanjutkan dengan pemakaman.