Dilahirkan di Naaldwijk pada 16 September 1914. Masuk Serikat Jesus pada 7 September 1932. Tiba di Indonesia sebagai misionaris pada 7 September 199 dan novisiat tahun kedua dilanjutkannya di Girisonta, Ungaran sejak tahun 1933-1934. Tahun juniorat ditempuhnya selama satu tahun (1934-1935) di Girisonta, Ungaran.
Studi filsafat selama tiga tahun (1935-1938) di Yogyakarta. Tahun orientasi kerasulan di Muntilan (1939-1941), dilanjutkan dengan belajar bahasa di Yogyakarta (1941-1942).
Belajar teologi di Australia pada 1942-1946. Menerima tahbisan imamnya pada 6 Januari 1945 di Sydney. Setelah menerima tahbisan imamnya, Pater Kester melanjutkan studi teologinya hingga 1946, dan pada tahun yang sama menjalani tahap akhir pembinaannya sebagai Jesuit dalam tersiat di Nijmegen, Berchmanium hingga 1947. Ia kembali ke Indonesia pada tahun yang sama. Kaul akhir diucapkannya pada 2 Februari 1950.
Dia adalah seorang pater yang hebat, meskipun tubuhnya lemah, di bawah pengawasan medis yang hampir tanpa henti, mengabdikan dirinya tanpa syarat kepada Kristus di Indonesia seumur hidup: Tuhan menggunakan dia untuk melayani sebagain besar posisi terdepan.
Hidup dan pekerjaan sejak kaul akhir hingga akhir hayatnya sebagai berikut :
| Pastor Paroki Gedangan | Semarang | 1947-1952 |
| Provinsial | Semarang | 1952-1954 1954-1962 |
| di Luar Indonesia | India | 1962-1963 |
| di Luar Indonesia | Belanda | 1963-1964 |
| di Luar Indonesia | Tokyo, Jepang | 1964-1966 |
| di Luar Indonesia | In Itinere | 1966-1967 |
| Pastoral – Gereja Katedral | Jakarta | 1967-1970 |
| Pastoral – Kolese Kanisius | Jakarta | 1970-1976 |
| Pastoral – Gereja Katedral | Jakarta | 1976-1982 |
Ia pernah bekerja sebagai :
Ia terus menerus mencari nasihat dan nasihat untuk menasihati kembali kebijakan Gereja dalam pelayanannya kepada dunia dan masyarakat Jakarta dan Indonesia.
Selain itu dia, melalui ruang pengakuan dan konsultasi, menjadi konselor pribadi dan pemimpin spiritual bagi banyak orang.
Pater Kester meninggal pada 30 Agustus 1982 dan dimakamkan di Makam Taman Getsemani, Kolese St. Stanislaus, Girisonta, Ungaran.
Beberapa kutipan yang dituliskannya pada buku Latihan Rohani :
” Walaupun fisik saya cacat, saya ingin tinggal di Indonesia, selama saya masih cukup berguna di sini”
” Berada bersama Kristut, tidak lebih baik dari Dia, memikul salib saya juga karena usia tua, juga salib karena tidak dihargai dan dalam kesetaraan dengan Kristus di salib menemukan kebahagiaan dan kedamaian batin. “
” Berkomitmen pada kerendahan hati, kesopanan, ingatan, penyerahan, kepercayaan, dan rasa terimakasih menjadi perhatian orang lain”
” Apa yang bisa saya berikan kembali kepada Tuhan? Pengabdian sepenuh hati saya kepda-Nya sebagai sumber dari semua yang baik dan indah, dan indah yang boleh saya alami. “
” Tuhan, saya menyerahkan hasil dari segala kepada-Mu dengan ketenangan dan pikiran “