Romo Widy, atau sering dipanggil Romo Djien oleh sesama rekan Jesuit, dilahirkan di Semarang pada 22 Maret 1952 dari pasangan Bp. Jonatan Kusdianto Adiwinata dan Ibu Elizabeth Listyani Sutantyo. Ia dibaptis dan menerima sakramen penguatan di
Gereja St. Yusup, Gedangan, Semarang yang merupakan paroki asalnya. Masa SMA ia jalani di SMA Kolese Loyola, Semarang yang dikelola oleh para pater Jesuit. Setelah lulus dari SMA, ia kemudian memutuskan untuk mengikuti panggilannya menjadi imam dan bergabung dengan Kelas Persiapan Atas (KPA) Seminari Menengah Mertoyudan.
Di akhir tahun KPA, Romo Widy memutuskan untuk bergabung dengan Serikat Jesus dan mulai menjalani masa novisiat di St. Stanislaus Girisonta pada 31 Desember 1973. Setelah dua tahun, ia mengucapkan kaul pertamanya sebagai anggota Serikat Jesus pada 1 Januari 1976 dan melanjutkan pendidikan filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Jakarta dari 1976 — 1979. Setelah studi filsafat, ia menjalani Tahun Orientasi Kerasulan (ToKer) sebagai moderator di SMA Kolese Kanisius, Jakarta selama dua tahun (1979 — 1981). Selanjutnya dia memasuki tahap
pendidikan teologi di Fakultas Teologi Wedhabakti, Yogyakarta dari 1981 – 1984. Dia ditahbiskan sebagai diakon oleh Mgr. Julius Darmaatmadja di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan pada 12 Oktober 1983. Ia kemudian menerima tahbisan imamat dari Mgr. Julius Darmaatmadja dalam upacara yang meriah di Gedung Olahraga Kridosono, Yogyakarta.
Salah satu hal yang diingat para Jesuit ialah ungkapan “Bejo kowe…” Artinya “Kamu masih untung…” Dengan cara itu, Romo Widy mau melihat sisi positif dari sebuah peristiwa-peristiwa sedih dan malang. Selain itu, ia menggunakan ungkapan itu untuk mengingatkan siapapun agar tidak terlena dengan kemapanan dan kenyamanan. Seperti dikatakan oleh St. Ignatius dalam Latihan Rohani kepada retretan agar dalam saat desolasi mengingat bagaimana ia mengalami konsolasi, dan pada saat konsolasi tidak menganggap itu sebagai usahanya sendiri melainkan rahmat Allah. Rahmat Allah yang samalah yang kiranya menjadi pegangannya dalam masa-masa sakit sebelum kemudian
menikmati kebahagian Allah yang ia imani.
Riwayat Perutusan P. Fransiskus Xaverius Widyatmaka, S.J.
| Moderator SMA Kolese Kanisius | Jakarta | 1984-1985 |
| Ekonom Komunitas Kolese Kanisius | Jakarta | 1984-1987 |
| Pastor Rekan Paroki Blok Q | Jakarta | 1987-1988 |
| Pastor Paroki Weleri | Weleri | 1991-1996 |
| Minister Kolese Hermanum | Jakarta | 1996-2001 |
| Pastor Paroki Muntilan | Muntilan | 2001-2004 |
| Pastor Rekan Mangga Besar | Jakarta | 2004-2009 |
| Pastor Rekan Blok B | Jakarta | 2009-2011 |
| Pastor Paroki Girisonta | Girisonta | 2011-2014 |
| Pastor Paroki Duren Sawit | Jakarta | 2014-2020 |
| Pastor Rekan Duren Sawit | Jakarta | 2020-wafat. |
Misa Requiem dan Pemakaman
Sesuai Protokol Kesehatan Serikat Jesus Provinsi Indonesia maka jenazah Rm. Fransiskus Xaverius Widyatmaka, S.J. dikremasi. Abu kremasi disimpan sementara di Gereja. St. Anna, Jakarta dan pada waktunya dibawa ke Kolese St. Stanislaus, Girisonta untuk disimpan dalam columbarium.
Misa Requiem akan diadakan pada Sabtu, 27 Juni 2020 di Gereja St. Anna, Jakarta. Misa pelepasan diadakan pada Minggu, 28 Juni 2020 dan kemudian di Kremasi di Crematorium Oasis, Tangerang pada tanggal yang sama.