Pater Broos merupakan anak pertama dari 12 bersaudara dalam keluarganya. Pater Broos dilahirkan pada 22 Agustus 1919. Dalam menghadapi awal panggilannya, ia merasa tidak berhak begitu saja meninggalkan keluarganya pada akhir krisis internasional. Setelah lulus HBS-A di kolese St. Joris di Eindhoven, ia bekerja selama 2 tahun dikantor tatausaha NV. Ia pun juga merangkap menempuh pendidikan sekolah perdagangan sore. Pada waktu itu, ia mulai belajar bahasa latin. Baru ketika adiknya lulus SLA, ia masuk ke sekolah Carolina di Den Haag. Selama satu tahun ia tinggal bersama keluarga jesuit yaitu keluarga Tuan Mulders, yang memiliki 2 kakak dan 3 anak di dalam Serikat Jesus. Secara diam-diam ia masuk dalam novisiat pada 16 September 1939 walaupun terlambat 1 minggu karena tertahan oleh kewajiban dinas militer. Ketika itu, semua pembebasan biasa dibatalkan karena baru–baru saja negara Inggris dan Perancis menyatakan perang kepada Jerman karena terikat oleh jaminan mereka kepada Polandia yang diserangnya.
Selama tahun pertamanya, seluruh penghuni novisiat Mariendaal terpaksa mengungsi beberapa minggu lamanya karena gedung dijadikan sebagai tangsi bagi pasukan penyerbu. Ketika gedung dikembalikan dalam keadaan berantakan, Fr. Broos mengistimewakan dirinya dalam membersihkan dan perbaikan selama berminggu-minggu. Masa novisiat dan juniorat dapat diselesaikannya di Mariendaal, sedangkan filsafatnya dituntut in dispersione yaitu di asrama Suster Ursulin di Eysden. Selain mendapatkan pendidikan filsafat, ia juga membantu perekonomian untuk seluruh komunitas yang semakin menurun pada akhir perang.
Sebagai pengawas, Fr. Broos ternyata sangat baik untuk kaum awam sehingga sesudah satu tahun ia dipindahkan ke asrama di Nijmegen. Sesuai dengan cita-citanya dan permintaannya sendiri, maka Frans Broos merasa amat bahagia ketika dia pada akhir bulan April 1940 mendapat perintah dari Pater Provinsial untuk menyiapkan keberangkatan ke Indonesia. Dia merasa sangat kecewa ketika itu digagalkan karena perang meletus. Bertahun-tahun lamanya dia mengulangi permintaannya, tetapi ketika masuk teologi di Maastricht, ia mulai takut bahwa nanti akan ditolak karena lewat umur. Maka dari Frans mulai belajar bahasa Rusia. Bagaimanapun juga ia merasa terpanggil untuk menyumbangkan tenaganya di wilayah misi, biarpun di bawah tanah.
Ia ditahbiskan pada 22 Agustus 1951. Besarlah kegirangannya ketika pada akhir teologi, ia ditunjuk untuk Indonesia. Pelajaran bahasa Indonesia dan Jawa terus dimulainya serta diteruskannya di sini sebelum dan selam tersianya di Girisonta. Hanya satu tahun ia menjabat sebagai minister (kemudian merangkap prefel) di Kanisius/Jakarta untuk seterusnya menjadi minister / operarius di Gedangan selama satu tahun. Lalu pangkatnya ditingkatkan menjadi Vice superior paaroki disitu. Besarlah jasa-jasanya untuk paroki Gedangan khususnya semangat kekeluargaan dan integrasi mulai berkembang di bawah pimpinannya; kaum buruh (pantja-sila) dan kongregasi-kongregasi menjadi kesayangannya dan dijadikan alat untuk memupukkan semangat kekeluargaan itu. Seluruh umat serta bawahannya kecewa ketika enam tahun kemudian, Pater Broos meninggalkan Gedangan.
Sebenarnya Pater Broos sudah matang untuk pulang, tetapi dengan rela hati ia menerima tugas sebagai Pengurus Yayasan Strada di Jakarta selama dua tahun. Dengan penuh semangat ia mendirikan sekolah-sekolah baru, dan khususnya nasib para karyawan sekolah tersebut diperbaiki melalui sumbangan in natura dan lebih-lebih dengan menyediakan asrama-asrama guru dan perumahan untuk mereka yang berkeluarga.
Atas permintaan sendiri, dia menjadi pastor di Priok. Dengan giat, didirikannya sekolah dan klinik, sambil menaruh seluruh hatinya kepada rakyat kecil yang dicintainya. Akan tetapi tanpa bersungut-sungut dia berpisah lagi untuk mengangkat tugas pembangunan baru di Paroki St. Ignatius, Jl. Malang, Jakarta yang sudah 20 tahun lamanya dirindukan. Namun, tugas ini tidak dapat diselesaikannya karena Tuhan telah memanggilnya.
Riwayat Penugasan :
| Tersiat (pater) | Girisonta | 1953-1954 |
| Tugas di Kolese Kanisius | Jakarta | 1954-1955 |
| Pastor Paroki Gedangan | Semarang | 1955-1962 |
| Pastor Paroki Gunung Sahari | Jakarta | 1962-1964 |
| di luar Indonesia (pater) | In ITINERE | 1964-1965 |
| Pastor Paroki Tanjung Priok | Jakarta | 1965-1966 |
| Pastor Paroki Jl. Malang | Jakarta | 1966-1968 |
Ia meninggal pada 3 Agustus 1968 di Jakarta dan sempat dimakamkan di Jakarta. Lalu makamnya dipindahkan ke Taman Getsemani, Girisonta, Ungaran.