Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

“… dan siapa yang bijak mengambil hati orang”
(Amsal 11:30)

Kata-kata itu sungguh menggambarkan sosok pribadi Romo de Quay.

Lahir di Breda pada tanggal 25 Februari 1899, beliau bersaudara tiga orang; seorang adik perempuan yang pada tahun 1966 meninggal di Tilburg; seorang lagi adik laki-laki yang pernah lama menduduki jabatan perdana menteri, mendahului meninggal bulan Juli 1985. Yang sampai sekarang masih hidup sebagai biarawati tarekat ‘Vrouwe van Bethanie”, seorang kakak perempuan yaitu Luce de Quay, tinggal di kota Arnhem.

Dalam masa perang dunia pertama ketika ayahanda yang seorang Letnan Jenderal bertugas sebagai attase-militer di Paris, beliau masih siswa pada Gymnasium B di Kolese St. Willibrordus di Katwijk dan setamatnya dari sekolah tingkat menengah atas itu melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan Tehnik di kota Delft dan sempat masik dinas wajib militer pada tahun 1918 untuk selanjutnya meninggalkan pendidikannya di perguruan tinggi, karena pada tahun berikutnya tanggal 26 September beliau masuk Novisiat di Mariendaal.

Rekan-rekan beliau bersama-sama masuk novisiat antara lain Mgr. Adrianus Djajasepoetra, Rm. Aloysius Soekiman Prawirapratama, dan para Rm J. Haarselhorst, H. Snijders, C. Teppema, L. Wevers; sungguh suatu angkatan Novisiat yang menghasilkan banyak misionaris. Waktu itu yang menjadi magister novitiorum Alm. Mgr. P. Willekens.

Pada tahun 1922 setelah menyelesaikan studi juniorat, beliau pindah ke Oudenbosch untuk memulai studi filsafat. Waktu beliau selesai studi filsafat, rumah filsafat pindah dari Oudenbosch ke Berchmanianum di Nijmegen pada tahun 1926.

Pada tahun 1926 itu juga beliau diutus ke Indonesia (1926-1928); jadi 60 tahun lamanya beliau berkarya di Indonesia. Beliau tidak sempat bertemu muka dengan Rm. van Lith di Indonesia, karena ketika Rm. de Quay pada tgl 20 September 1926 tiba di Batavia dan langsung menuju ke Muntilan, tempat ia berkarya, sudah 8 bulan lamanya Rm. van Lith beristirahat di pemakaman (wafat tgl 9 Januari 1926). Sambil belajar bahasa Jawa, Rm.de Quay bertugas sebagai surveillant di Kolese pendidikan guru di Muntilan.

Tahun 1930 beliau mulai Studi Teologi di Maastricht; tiga tahun kemudian, tanggal 15 Agustus 1933, menerima tahbisan imamat yang tidak lama kemudian disusul dengan peristiwa duka wafatnya sang ayah.

Selesainya tahun keempat studi teologi bersamaan dengan diangkatnya mantan Magister Novitiorum beliau, Rm. Petrus Willekens, menjadi Vikaris Apostolik untuk Vikariat Batavia waktu itu yang merangkum kawasan Jawa Barat dan Jawa Tengah; maka atas permohonan Mgr. Willekens itu, Rm. de Quay ditugaskan menjadi sekretarisnya untuk sementara waktu, selama Mgr.Willekens belum berangkat ke tempat tugasnya. Satu tahun kemudian yaitu pada bulan Agustus 1934, berangkatlah Mgr. Willekens ke daerah vikariatnya di Indonesia bersama-sama dengan sejumlah misionaris, yaitu para Romo yang waktu itu masih frater, Dijkstra, Wakkers, Middendorp, Ruding, dan Rm. C. Teppema serta Woerkens.

Separipurna pendidikannya di dalam Serikat Jesus dengan selesainya masa Tersiat di Drongen, Belgia, Rm. de Quay kembali ke Indonesia mempersembahkan segenap tenaga dan hidupnya demi perkembangan Gereja di Indonesia.

Pada permulaan Muntilan merupakan tempat beliau berkarya sebagai sekretaris Yayasan Kanisius, namun perhatian Mgr. Willekens yang tidak lupa akan bekas sekretarisnya, karena sesuatu dan lain hal membuat Mgr. Willekens berkeputusan meminta tenaga Rm. de Quay untuk menduduki jabatan Vikaris Jenderal Vikariat Batavia, permohonan yang mana diluluskan oleh Pater Superior Misionis.

Agustus 1940, Rm. Albertus Soegijapranata, pastor Paroki St.Yusup, Bintaran, menerima pengangkatan sebagai Uskup Indonesia pertama dan menduduki jabatan Vikaris Apostolik di Vikariat baru di Semarang. Monsinyur baru ini juga tidak lupa pada bekas rekan-novis (tahun kedua) dan mengangkat Rm. de Quay menjadi sekretaris dan Vikarius Delegatus vikariat Semarang.

8 Desember 1941, pecahlah perang dengan Dai-Nippon atau Jepang. Bulan Maret tahun berikutnya Jepang sudah menguasai kawasan Nusantara. Maka mulailah masa berat untuk seluruh Indonesia. Gereja dalam masa awal perkembangannya sempat mengelami pahitnya dampak peperangan. Berangsur-angsur para Pater, Frater, dan Bruder yang berasal dari negeri Belanda habis masuk internir-an.

Rm. de Quay masuk dalam tahanan Kenpetai dimana beliau juga mengalami siksaan segala. Akhirnya beliau dibawa ke Kamp di Bandung; di kamp itu banyak nostri diinternir : imam 31 orang, skolastik 14 orang, dan 5 orang bruder; nostri yang lain ada yang ditempatkan di interniran Cimahi dan 6 orang di penjara. Yang menduduki jabatan Superior Missionis waktu itu ialah Rm. J. van Baal.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Nippon menyerah pada Sekutu. Rm. de Quay kembali ke Semarang dan menjabat sebagai wakil Superior Misionis untuk tidak lama kemudian ditunjuk menjadi Superior Misionis dan sempat mengikuti Congregatio Generalis dalam mana Pater Janssens dipilih menjadi jenderal.

Sekembali dari Roma, Rm. de Quay pindah dari Randusari (Semarang) ke Karangpanas, yang semenjak itu menjadi provinsialat.

Tahun-tahun pertama menjalani tugasnya sebagai Superior Missionis, bagi Rm. de Quay merupakan masa yang berat dan memusingkan dengan terjadinya pembunuhan atas seorang Romo dan Bruder pada 1 November 1945 di Magelang. Tiga tahun kemudian, tanggal 21 Desember 1948 lagi-lagi tambah pembunuhan atas nama Rm. R. Sandjaja dan Frater H. Bouwens. Semua itu menuntut kekuatan tidak sedikit dari fisiknya juga; maka pada tahun 1951, beliau perfi bercuti ke Belanda.

Dalam kunjungannya ke Indonesia selaku Provinsial pada tahun 1952, Pater C. Kolfschoten mengangkat Rm. G. Kester menjadi Superior Missionis dan Rm. de Quay lalu berkarya sebagai operarius di kota Yogyakarta. Ketika Rm. A. Djajasepoetra diangkat menjadi Vikariat Apostolik di Jakarta, Rm. de Quay menggantikan beliau sebagai Rektor Kolese St. Ignatius.

Sebagai operarius Rm. de Quay berkarya sungguh-sungguh demi umatnya; hal ini terbukti baik ketika belaiu berkarya di Purbayan (Solo) maupun di Klaten (1963-1971) kunjungan umat dari rumah ke rumah, terutama bila ada sesuatu soal yang perlu diselesaikan dengan rajin beliau tekuni, dan tanpa mengenal lelah beliau mengusahakan beresnya persoalan-persoalan yang beliau hadapi.

Sehubungan dengan pengalaman dan jasa-jasanya itu, beliau diikutsertakan duduk dalam Tim Pastoral Keuskupan Agung Semarang. Berkat sikap yang terbuka bagi siapapun, tidak sedikit masalah-masalah hidup perkawinan beliau tinjau dengan teliti disertai jiwa dan semangat pastoral untuk membantu umat yang mengalami kesusahan dalam membangun kehidupan kristiani yang sejati.

Pada tahun 1967, suatu ketika dalam perjalanannya ke Bruderan Klaten untuk mempersembahkan Missa, beliau jatuh dari sepeda, sehingga perlu menjalani operasi di Rumah Sakit Pantirapih. Semenjak itu untuk mengunjungi umat beliau terpaksa harus dihantar dengan jeep karena susah berjalan, bersepeda pun tidak dapat lagi.

Pada tahun 1972 paroki Klaten diserahkan kembali kepada keuskupan dan dikelola oleh para imam diosesan, maka Rm. de Quay pindah ke rumah retret Sangkalputung. Dari situ beliau masih ikut membantu karya paroki, mengunjungi stasi-stasi terutama pada hari Minggu.

Makin lama kesehatan dan kekuatan beliau semakin mundur, sehingga akhirnya pada tahun 1978,beliau terpaksa pindah ke Emmaus, Girisonta. Disitu pun sedapat mungkin, beliau masih ikut membantu menerima pengakuan dosa di Gereja pada hari Minggu; membimbing retret perorangan dan menjadi penasehat banyak orang.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang beliau kedepankan dalam percakapan, terungkaplah bahwa Rm. de Quay selalu memperhatikan segala-galanya yang terjadi didalam Gereja, Provinsi dan rumah sebagai layaknya orang yang bijaksana, terbuka terhadap perubahan-perubahan dalam Gereja…”omnia probate quod bonum est tenete”.

Pada waktu-waktu terakhir hidupnya, secara berangsur-angsur pendengaran dan penglihatan beliau mengalami kemunduran, sehingga dianggap perlu untuk diusahakan bantuan buku-buku dalam bentuk cassete-audio dari ‘Blindeninstituut’.

Akhir bulan Juni 1986, beliau untuk sekian kalinya menjalani opname di rumah sakit St. Elisabeth dan pada pertengahan bulan berikutnya, Juli, tanggal 17 dengan penuh penyerahan, beliau mempersembahkan hidup kepada Tuhan yang memanggil Rm. Gasparus de Quay sebagai ‘abdi yang setia’. Keesokan harinya, yaitu Jumat, 18 Juli 1966, beliau dimakamkan di Girisonta.