Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

“Dalam segala hal kami menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah” (2 Kor 6:4)

Romo Prapta seperti dia biasanya disebut lahir di Beji Klaten pada tanggal 18 Januari 1918. Dia dipermandikan sebagai murid SD pada 28 Mei 1927 di Gereja S. Joseph, Bintaran, Yogyakarta. Dia masuk sekolah Muntilan dari 1933 sampai 1936 lalu masuk seminari menengah di Yogya 1936-1940.

Bersama P Widyana ia masuk Serikat pada 7 September 1940 di Girisonta. Setelah dua tahun juniorat 1942-1944 dia langsung mulai bertugas di seminari menengah dan mengajar bahasa latin dan bahasa indonesia maupun fisika dari 1944 sampai 1946 baik di Girisonta maupun di untilan. September 1946 ia mulai studi filsafat ketika sudah ada dosen lagi di Kolsani sampai 1949. Karena dia sudah agak lanjut usia P Prapta langsung diteruskan ke teologi di Maastricht dimana dia ditahbiskan imam pada tanggal 22 Agustus 1952.

Kembali ke Indonesia pada tahun 1953 ia ditugaskan dulu di Yogya sebagai pimpinan cabang Kanisius Yogya. Tahun kemudian dia menjalani tersiat di Girisonta. Bagian pertama hidupnya terus di bidang pastoral paroki. Di Kolsani dulu dengan tugas operarius excurrens ke Medari dan Somohitan (bersepeda). Dari 1958-1960 di Muntilan, kemudian setahun di Boro. Pada tahun 1961 ia sudah di Purbayan untuk tiga tahun, lalu kembali lagi ke Boro, juga untuk tiga tahun. Tahun 1967 membawa perubahan besar dalam hidupnya: ia ditunjuk menjadi pembimbing para novis. Untuk itu P Prapta dapat mempersiapkan diri selama beberapa bulan dengan studi spiritualitas di Roma. Dari permulaan 1968 sampai akhir 1975 beliau memberi formatio pertama kepada para novis serikat. Sejak September 1970 beliau juga menjadi rektor seluruh komunitas besar Giriosonta.

Tugas berikutnya juga di bidang formatio tetapi sekarang pada Seminari Tinggi Yogyakarta sebagai Rektor Seminari. Karena akhirnya kesehatannya telah mulai terganggu, pada akhir 1979 P Prapta kembali ke Paroki Purbayan. Tugas ini pun terlalu berat bagi dia. Maka tahun kemudian dia telah tinggal di rumah retret Sangkalputung dimana ia berkerja sejauh kesehatannya mengijinkan. Dan cara hidup ini dapat berlangsung sampai tujuh tahun. Baru pada bulan Juni 1987 ia merasa tiba waktunya untuk sungguh beristirahat di Emmaus, karena sakit levernya semakin mengganggu sehingga dia masuk keluar dari rumah sakit. Akhirnya pada 25 Maret P Prapta dibawa lagi ke RS Elisabeth, Semarang karena mengalami pendarahan. Hari kemudian Tuhan telah memanggilnya sehingga ia bisa ikut Minggu Besar bersama Dia yang mengalahkan maut.