Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

“Ia selalu ramah dan baik hati, melayani orang miskin dengan pelajaran, bimbingan dan pengobatan, agar mereka semua semakin mengenal Tuhan Yesus” (Markus 16:16)

Dilahirkan pada 17 Juni 1910 di Linz, Austria. Masuk Novisiat Serikat Jesus pada 7 September 1932.

Baru selesai belajar filsafat, ia mempersiapkan diri untuk menjadi misionaris dengan belajar kedokteran di Austria. Dan pada tahun 1938, ia meninggalkan tanah airnya untuk selama-lamanya pergi menuju Tiongkok. Ia belajar bahasa Tinghoa dan ilmu teologis di Shanghai.

Pater Staudinger menerima tahbisan imamnya pada 7 Juni 1944 dan mengucapkan kaul akhir pada 2 Februari 1948. Segera setelah ditahabiskan menjadi imam, ia menjadi guru dan pamong di Kolese Sy di Tientsin, sampai dipaksa pergi oleh rezim komunis.

Tanggal 31 Desember 1961, Pater Karl Staudinger mendarat di Indonesia, belajar bahasa Indonesia dan melayani umat berbahasa Tinghoa di Mangga Besar, Jatinegara, Gunung Sahari, Toasebio, Jembatan Tiga, Kebayoran Blok Q, Klender, hingga kembali lagi ke Mangga Besar.

Pastor Paroki – Pastoran Jl. Matraman, JatinegaraJakarta1952-1954
Pastor Paroki – Pastoran Gunung Sahari Jakarta1954-1955
Pastor Paroki – Pastoran Toasebio Jakarta1955-1963
In Itinere (di luar Indonesia) 1963-1964
Pastor Paroki – Pastoran Toasebio Jakarta1964-1970
Pastor Paroki – Pastoran Mangga BesarJakarta1970-1971
Pastor paroki – Pastoran Jembatan Tiga Jakarta1971-1974
Pastor Paroki – Pastoran Blok QJakarta1974-1975
Pastor Paroki – Residensi Samadi, KlenderJakarta1975-1979
Pastor Paroki – Pastoran Mangga Besar Jakarta1979-1981

Pater Staudinger meninggal pada 9 April 1981 di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta dan sempat dimakamkan di Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta. Namun sekarang dimakamkan di Makam Taman Getsemani, Kolese St. Stanislaus Kostka, Girisonta, Ungaran.