Soedjendro begitulah nama kecil Br. Bonfacius Djendrasoesanta, S.J. Beliau dilahirkan pada 12 Januari 1916 di Yogyakarta, Bruder Djendrasoesanta ialah putra dari (Alm) Bapak Soeroso R.S. Sastrapertama dan (Alm) Ibu Benedicta Fr.de.Ch R. Ng. Sastrapertama; menerima sakramen baptis pada usia 12 tahun di Gereja St. Antonius Padua, Yogyakarta (1928) dan beberapa bulan kemudian menerima sakramen penguatan di tempat yang sama (1928). Ia menempuh pendidikan dasar di Wirobrajan, Yogyakarta (1927-1929), Taman Siswa Yogyakarta (1929-1931), dan Alg. Ned Verbnd Semarang (1932-selesai).
Motivasinya untuk masuk Serikat Jesus semakin mantap ketika ia menjalani tugas di Yayasan Kanisius Semarang (1932-1934). Hingga akhirnya masuk Novisiat Serikat Jesus pada 9 Oktober 1934 di Girisonta, Ungaran; dan mengucapkan kaul pertamanya pada 10 Oktober 1936 di Girisonta, Ungaran. Bruder Djendra mengikuti kursus E.H.B.O (PPPK) di Yogyakarta (1941). Kaul akhir diucapkannya di hadapan P Cornelis Ruygrok, S.J pada 2 Februari 1945 di Katedral, Jakarta.
Riwayat Penugasan
| Katekis Sekolah dan daerah di bawah Kolsani | Yogyakarta | 1940 |
| Katekis di Kolsani | Yogyakarta | 1940-1943 |
| Surveillant di Vincensius | Jakarta | 1943-1944 |
| Prefect dan Wakil Pimpinan Vincencius | Jakarta | 1944 |
| Moderator pemuda-pemuda di Cibinong | Jakarta | 1944-1945 |
| Pembantu dan WK Peimpinan Vincencius | Jakarta | 1945 |
| Minister Katedral | Jakarta | 1945-1946 |
| Minister Theresia | Jakarta | 1946 |
| Minister Rumah dan Majalah Hidup Katolik | Jakarta | 1946 |
| Membantu di Paroki Katedral | Jakarta | 1947-1949 |
| Minister SMA de Britto | Yogyakarta | 1949-1958 |
| Minister Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Mertoyudan | Magelang | 1958-1959 |
| Membantu di Provinsialat SJ | Semarang | 1949 |
| Membantu urusan tanah Tanjung Priok | Jakarta | 1968-1969 |
| Pengurus Rumah Bandung | Bandung | 1969-1973 |
| Membantu di rumah Kramat VI/22 dan Theresia | Jakarta | 1975-1978 |
| Membantu di Perpustakaan Kolese St. Stanislaus | Girisonta | 1978-1996 |
Sejak lama Br. Djendra mengidap sakit tua dan kerap kali berbatuk. Berkali-kali dia menolak semua tawaran untuk pindah tempat ke Wisma Emmaus, Sekalipun dia bersemangat bekerja di perpustakaan, namun pada kenyataannya dia diketemukan duduk tertidur di perpustakaan. Bila ditanya tentang sakitnya, dia biasa menjawab, saya tidak sakit. Tapi pada akhirnya dia datang menyerahkan diri dan selanjutnya menetap di Wisma Emmaus.
Dalam keadaan sakit, Br. Djendra secara fisik tak lagi punya daya bahkan untuk berjalan pun harus ada persediaan kursi beroda. Dalam kesepian yang mungkin terasa amat panjang dan membosankan Br. Djendra mampu mengambil hikmatnya. Dia kelihatan tabah menyandang derita, mampu mempersembahkan sengsara dan keprihatinannya kepada Allah Bapa lewat Yesus yang menderita demi kehendak Bapa dan demi keselamatan jiwa-jiwa.