Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Romo Anicetus Djitapandrija dilahirkan pada 17 April 1942 di Bantul dari pasangan suami istri Wilfridus J. Martasudjita dan Constantina Martasudjita. Nama kecilnya Anipandrija. Dua hari setelah kelahirannya, ia dibaptis di Paroki St. Yakobus, Klodran, Bantul dan sepuluh tahun kemudian, 13 Juni 1952,  ia menerima sakramen Krisma di Paroki Ganjuran.

Ia masuk Seminari Mertoyudan setelah menamatkan pendidikan dasar di Bantul (1949-1955). Di Seminari Mertoyudan ini (1955-1962), Romo Djita menetapkan keinginannya untuk menjadi Jesuit. Maka, setamat pendidikan seminari, ia melamar menjadi anggota Serikat Jesus dan diterima. Menjalani masa novisiatnya di Novisiat St. Stanislaus Kostka, Girisonta sejak 7 September 1962, Romo Djita mengucapkan kaul pertamanya pada 7 September 1964. Program yuniorat ia jalani selama setahun, juga di Novisiat Girisonta (1964-1965). Setelah itu, ia diutus untuk studi Filsafat di Pullach dari tahun 1965-1967. Sekembalinya ke Indonesia, ia menjalani program tahun orientasi kerasulan (TOK) selama dua tahun (1967-1969), yaitu di LDD Jakarta. Selama TOK itu, ia mendalami persoalan sosial di Biro Sosial Semarang dan mengikuti kursus bidang perburuhan dan karya sosial di PTPM Yogyakarta.

Formasi Teologi dijalani Romo Djita dari tahun 1969-1972 di Fakultas Teologi Wedabhakti (dulu Institut Filsafat dan Teologi Wedabhakti) Kentungan, Yogyakarta. Tahbisan tonsura dan tahbisan rendah ia terima di Pullach dari tangan Mgr. John Neuhausler pada 20 dan 21 Mei 1971. Tahbisan subdiakon dan tahbisan imam ia terima dari tangan Bapak Kardinal Darmajuwana di Yogyakarta. Tahbisan diakonat diterima pada 5 Desember dan sehari kemudian (6 Desember 1971), ia ditahbiskan imam.

Program tersiat ia jalani di EAPI Manila selama lebih kurang 11 bulan (1 Agustus 1976 – 30 Juli 1977) di bawah bimbingan Pater A. Shea, S.J. Pada 24 Desember 1979 di Gereja Karangpanas, Semarang, Romo Djita mengucapkan kaul akhir dalam Serikat diterima oleh Pater Suradibrata, S.J. Sejak itu ia diterima sebagai anggota penuh Serikat Jesus dengan gradus coadiutor spiritualis. Pada tahun 1990, Pater Jenderal Peter Hans Kolvenbach menerima usulan promosi Romo Djitapandrija ke gradus profess empat kaul.

Romo Djita banyak berkarya pastoral di paroki. Ia juga dikenal sebagai sosok dengan metode pelatihan untuk gerakan pastoral dan sosial, yang secara khusus pernah dikembangkannya melalui Lembaga Konsultasi Gerejani. Romo Djita juga cukup lama diberi penugasan sebagai anggota Komisi Keuangan Provinsi Indonesia Serikat Jesus dan anggota Komisi de Ministeriis, yaitu selama lebih dari 15 tahun (1989-2005). Ia juga menjadi Ketua Perkumpulan Strada dan Yayasan Bina Teknik Keuskupan Agung Jakarta dari tahun 1990-2006.

Riwayat tugas Rm. Djitapandrija

Karya sosial di LDD KAJJakarta1972-1974
Prefek rohani para skolastik SJ, Kampung AmbonJakarta1974-1976
Karya pastoral Lembaga Konsultasi Gerejani & Pembina Yayasan KanisiusYogyakarta1977-1984
Socius ProvinsialSemarang1984-1987
Pastoral mahasiswaYogyakarta1988-1991
Superior Nostrorum in Diaspora Wilayah Keuskupan Agung JakartaJakarta1990 – 1994
Pastor Paroki Santa Perawan Maria Ratu Blok QJakarta1991-1994
Rektor Kolese KanisiusJakarta1994-2001
Pastor Paroki St. Petrus & Paulus, Mangga BesarJakarta2001-2010
Pastor Rekan Paroki St. Anna, Duren SawitJakarta2010-2014
Pastor Rekan Paroki St. Robertus Bellarminus, CililitanJakarta2014-wafatnya

Ekaristi Requiem dan Pemakaman

Ekaristi Requiem dan pemakaman dilakukan pada Kamis, 27 Agustus 2015 di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta, Bergas, Ungaran.