Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Aloysius Prawirapratama dilahirkan pada 26 November 1894. Ia masuk novisiat di Mariendaal 14 Juni 1919. Namanya pada waktu itu Soekiman. Nama Prawirapratama baru muncul dalam katalog 1931, di antara teman-teman negeri Belanda nama itu telah dikenal. Tahun novisiat dan juniorat dihabiskannya di Mariendaal.

Studi filsafat ditempuhnya di Oudenbosch, Belanda selama 3 tahun (1922-1925). Dilanjutkan dengan studi teologi di Maastricht, Belanda (1925-1929). Ia ditahbiskan menjadi imam di Belanda pada 15 Agustus 1928. Setelah menyelesaikan studi teologinya, ia melanjutkan tahap akhir formasinya sebagai seorang Jesuit dalam tersiat pada 1929-1930 di Belgia. Ia mengucapkan kaul akhirnya pada 2 Feburari 1932.

Riwayat Penugasan :

Filsafat Oudenbosch, Belanda1922-1925
Teologi Maastricht, Belanda1925-1928
Teologi (pater)Maastricht, Belanda1928-1929
Tersiat (pater) Belgia 1929-1930
Pastor Paroki AmbarawaAmbarawa1930-1933
Pastor Paroki Kotabaru Yogyakarta1933-1936
Pastor Paroki Gedangan Semarang1936-1939
Pastor Paroki Randusari Semarang 1939-1941
Pastor Paroki Purbayan Surakarta1941-1944
Pastor Paroki RandusariSemarang1944-1946
Pastor Paroki Kotabaru Yogyakarta1946-1947
Pastor Paroki AmbarawaAmbarawa1947-1949
Educatio – Bruderan Muntilan 1949-1950
Pastor Paroki Pugeran Yogyakarta1950-1954
Pastor Paroki AmbarawaAmbarawa1954-1965

Sebelum Soekiman meninggalkan Maastricht pada tahun 1930, terjadilah sesuatu yang mengherankan dan sangat menarik hati. Dalam surat kabar besar (entah itu “De Tijd” entah “Maasbode”) termuatlah dua kali karangan panjanga mengenai Adaptatie (penyesuaian) dalam kesenian katolik seperti telah dicoba pada waktu itu. Di Mojokerto dan Ganjurang yang diuraikan dalam buku J.J. Schmutzer, Pater J. ten Berge : Europeanisme of Katholicisme. Dua karangan itu diberi tanda tangan dengan nama A. Prawirapratama. Karangan itu ditulis dengan hati yang berkobar-kobar, dan semangat yang berapi-api, dengan berani dan dengan pikiran yang dalam dan luas. Tetapi isinya tentang percobaan tersebut di atas dan kata-kata terakhir merupakan seruan “Caveant Consules’

Tuan Schmutzer adalah penderma besar bagi Misi, tokoh katolik yang dihormati dan dicintai oleh seluruh umat dan misi. Oleh karenanya ada beberapa orang misionaris yang terkejut dan timbulah pertanyaan “Siapakah Prawirapratama itu?”

Mula-mula rahasia itu hanya diketahui oleh seorang saja yaitu Pater P. Willekens, rektor teologat. Beliau yang memberikan ijin untuk mengirimkan naskah-naskah itu. Kepandaiannya mengarang menjadi terang sewaktu pada tahun 1927 (masih dengan nama A. Soekiman) menulis dalam G.G.G. no 6 “Hoe ziet de javaansche jongen het Christendom?” (Bagaimana pandangan Jawa tentang agama Kristen?) dengan kesimpulan “Jawa vraagt zelf om leeke-apostelen” (Tanah Jawa sendiri memanggil rasul awam). Karangan itu bukan cerita belaka tetapi merupakan sebuah pikirannya sendiri antara lain dengan membandingkan kekayaan klasik di dunia Barat dengan suasana religius di Jawa Tengah pada awal abad ini.

Soekiman sendiri awalnya menolak agama Kristen dan hanya karena terpaksa ia mau pergi ke Muntilan. Ia mau menjadi guru dan karena jumlah calon terlalu besar, akhirnya tidak ada kesempatan lain untuk pergi ke Muntilan. Ia berangkat ke sana dengan tekad bulat tidak akan menjadi seorang Kristen. Tetapi rahmat Allah membuka hati dan pikirannya dan kebenaran wahyu diterima dengan seluruh hatinya, sehingga ia pernah menangis karena kekurangan dalam hidupnya: belum suci seperti pelindungku Aloysius.

Waktu di negeri Belanda ia pernah menarik perhatian dengan khotbahnya, karena suaranya nyaring serta uraiannya yang lugas dengan teladan dan perumpamaan dari dunia Timur.

Sebagai imam ia kerap kali memberikan ceramah melalui radio. Dalam karya paroki ia mengalami kesukaran dalam beramah tamah dengan umat. Ia sendiri mengetahui hal itu sehingga ia kadang-kadang tertekan karenanya. Dengan kesungguhan ia minta petuah kepada rektornya di Ambarawa yaitu Pater van Rijkckevorsel, tetapi sepanjang hidupnya ia harus berjuang untuk dapat mengatasi kesukaran itu.

Selama ia di negeri Belanda (1919-1930) tidak ada kesulitan dan dalam pergaulannya dengan teman-temannya ia dijuluki “De Soek”.

Perasaannya lebih dalam dan pikirannya lebih luas dan sehat dari persangkaan orang yang hanya mengenal di dari jauh ataupun secara resmi. Setelah ia menjadi imam ia selalu suka membaca dan di Ambarawa ia pernah meminjam buku dari Yogyakarta. Romo Prawira seorang yang hidup dari imannya.

Ia dibebastugaskan dari segala karya pada 1 Juli 1965 dan beristirahat di Wisma Emmaus, Girisonta. Setelah hampir 10 tahun beristirahat di Wisma Emmaus, Pater Soekiman meninggal pada 21 Desember 1975 dan dimakamkan di Taman Getsemani, Girisonta, Ungaran.