Pater Busch lahir pada 10 September 1900. Ia masuk Novisiat SJ pada 26 September 1920. Ia ditahbiskan menjadi seorang imam pada 15 Agustus 1929 dan mengucapkan kaul akhirnya pada 2 Februari 1938.
Riwayat Penugasan :
| Formatio – Kolsani | Yogyakarta | 1931-1941 |
| Formatio – Girisonta | Girisonta | 1941-1942 |
| Formatio – Kolsani | Yogyakarta | 1942-1943 |
| Internir – Kamp. Benteng | Yogyakarta | 1943-1944 |
| Internir – Kamp | Baros | 1944-1945 |
| Internir – Kamp Pundong | Bantul | 1945-1946 |
| Formatio – Kolsani | Yogyakarta | 1946-1949 |
| di luar Indonesia (pate) | In ITINERE | 1949-1950 |
| Formatio – Kolsani | Yogyakarta | 1950-1960 |
| Formatio – Jl. Code | Yogyakarta | 1960-1968 |
| Formatio – Seminari Tinggi Kentungan | Yogyakarta | 1968-1978 |
Pater Busch adalah salah satu profesor filsafat di Kolese Ignatius. Dari dulu Pater Busch ditakuti oleh anak-anak karena filsafat merupakan ilmu paling sulit. Mereka menganggap Pater Busch sangatlah pandai. Benar saja. Kuliahnya selalu dipersiapkan sungguh-sungguh, intensif penuh dedikasi. Ia menjadi profesor yang dianggap paling jelas karena bahasa latinnya yang lancar, yang disusun dengan konstruksi Belanda jadi mudah dimengerti. Bahkan Pater Busch mengajarkan dan memberitahukan mana yang perlu digaris merah atau garis biru, sehingga buku diktat filsafat selalu penuh warna.
Setiap minggu secara bergilir, Pater Busch naik mimbar di gereja Kotabaru berkhotbah. Suara tidak menggeledek, tetapi penuh keyakinan. Isi khotbah bermutu dan gaya berkhotbah cukup memukau para pendengar. Sudah tentu kalau umat di gereja kelihatan senang dan banyak perhatian bila Pater Busch berkhotbah. Khotbah Pater Busch selalu dipersiapkan benar-benar secara tertulis.
Pada waktu itu, gereja Kotabaru tiap hari Sabtu sore ada doa Lof dan kesempatan mengaku dosa. Pater Busch menjadi salah satu favorit karena dianggap memberikan bimbingan dan bombongan kepada anak muda. Pada masa sehatnya, Pater Busch sering menjadi pemimpin retret yang digemari justru karena retret itu dipersiapkan dengan baik dan dibawakan dengan semangat.
Pada tahun 1941, Pater Busch diberikan sabbatical year. Beliau dibebeaska memberi kuliah supaya dapat mengonsentrasikan ketekunan dan kemampuannya kepada Bahasa Jawa. Sebab dengan bersenjata bahasa Jawa, ruang lingkup apostolik Pater Busch akan melebar. Namun, karena keterbatasan dan juga umur yang sudah semakin berumur, yang terasah hingga kata “monggo” dan “matur suwun”.
Pater Busch meninggal pada 5 Juni 1978 dan dimakamkan di Taman Getsemani, Girisonta, Ungaran.