Pater Vermeulen lahir di Etten, Brabant, Netherland pada tanggal 1 Oktober 1854. Ia memulai dan menyelesaikan studi utamanya di Turnhout, Belgia dna kemudian masuk Novisiat di Mariendaal, Grave pada 1 Oktober 1875. Setelah menyelesaikan masa percobaan selama 2 tahun, dan mengabdikan 2 tahun untuk pengulangan kelas Latin dan Yunani, ia pergi ke Oudenbosch untuk belajar filsafat.
Setelah itu ia menghabiskan masa orientasinya di College of Sittard selama 3 tahun, dilanjutkan belajar teologi Maastricht, dan ditahbiskan menjadi imam pada 8 September 1887. Setelah ditahbiskan ia menjadi pengajar dan pamong di Seminari Cullenborg sebelum akhirnya dikirim ke Misi Hindia Belanda (Indonesia) pada musim gugur 1889 (26 Desember 1889). Mgr. Edmundus Sybandrus Lupen dan Pater Joannes Engbers menjadi teman-temannya dalam perjalanan panjang itu. Selama di Indonesia, ia bertugas di Paroki Surabaya.
Namun, ia segera dipaksa kembali ke tanah air meninggalkan misi Hindia Belanda pada 7 Oktober 1891karena sakit. Dia ditugaskan di Gereja Teresa di Den Haag, dan kemudian dipindahkan ke Gereja Our Lady Immaculate Conception hingga ia meninggal dunia pada 26 Juli 1911 akibat diabetes yang telah dideritanya selama bertahun-tahun. Ia dimakamkan di ruang bawah tanah pemakaman para klerus di Den Haag.
Walaupun hanya sebentar di Indonesia, namun banyak orang yang mengenang Pater Vermeulen sebagai orang yang sangat baik dan menginspirasi. Kesopanan yang ramah memenangkan hati kecil dan besar, maupun kaya da miskin. Ia orang yang tenang sebagai utusan Tuhan yang bermartabat, yang mengilhami penghormatan bagi semua orang. Banyak orang selalu menyebut “Pater Vermeulen yang baik”. Baik diantara para pater maupun hubungannya dengan orang luar, ia selalu mengedepankan kesopanan yang ramah dan tenang. Banyak orang di Surabaya, Malang, Kediri, dan tempat lain yang merupakan tempat kegiatannya selama misi, sangat memuji kehangatan Pater Vermeulen.
Ketika kembali ke Belanda, ia menjadi tempat perlindungan bagi ribuan orang Belanda dan umat Katolik di Eurasia. Ia sangat fasih dalam mendengarkan pengakuan dosa dan memberikan penghiburan. Pengakuannya diserbu oleh umat paroki dan non-paroki dari semua lapisan masyarakat di Den Haag.