Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Henricus van Thiel lahir dari keluarga yang sangat religius di Beek en Donk, yang dikenal karena kebajikannya, pada tanggal 22 Maret 1867. Ia belajar di St. Aloysius College di Sittard, dan kemudian memutuskan untuk melayani Tuhan sebagai Imam di Serikat Jesus.

Pada tanggal 26 September 1886, ia memasuki novisiat di Mariendaal. Setelah 4 tahun ia dikirim ke skolastik Perancis di Pulau Jersey untuk belajar ilmu pengetahuan, Bahasa, dan perkembangan sosial. Pada tahun 1893, ia datang ke perguruan tinggi untuk teologinya. Kemudian ia menerima tahbisan Imamat pada 26 Agustus 1899 dan kemudian diikuti dengan penugasannya ke Misi Hindia Belanda setelah ia menyelesaikan teologinya.

RIWAYAT TUGAS PATER HENRICUS VAN THIEL, S.J.
SELAMA DI INDONESIA

KARYA LOKASI TAHUN
Pastor Stasi Larantuka Flores 1901-1903
Pastor Stasi Atapupu Timor Timur 1903-1904
Pastor Paroki Kidulloji Yogyakarta 1904-1913

Tanggal 24 November 1901, ia mendarat di Batavia bersama dengan Pater Hoeberechts. Stasi pertamanya ialah Larantuka, Flores. Di sana ia bertemu dengan penduduk asli yang tidak beradab dan belajar dari pengamatannya sendiri tentang pekerjaan misionaris yang sebenarnya dengan kesulitan dan penghiburan. Setelah membiasakan diri dengan kondisi baru ini, ia menyeberang dan menetap di Atapupu, di antara orang-orang yang bahkan lebih jauh dari peradaban Barat daripada peradaban Flores kala itu.

Belum lama dia di Atapupu, ia harus kembali ke Jawa dan menetap Yogyakarta. Dia menetap selama 7 tahun di Yogyakarta yang hampir secara eksklusif berisi umat Katolik Eropa. Namun justru pada masa itulah gerakan pertama penduduk asli menuju Katolik mulai terbentuk. Di sini di negara ini banyak orang Jawa, yang mengingat kenalan pertama kali dengan teks-teks Alkitab Romawi dari khotbah oleh Pastor van Thiel.

Setelah 10 tahun bekerja di daerah tropis rupanya mempengaruhi Kesehatan P van Thiel dengan sangat buruk, sehingga dirasa hanya tinggal di Belanda-lah yang dapat memberikan harapan untuk sembuh. Akhirnya ia pulang ke Belanda pada 14 Juli 1913. Dan benar, iklim Belanda memang membawa perbaikan. Kemudian sejak 1914, ia bekerja di Paroki St. Aloysius, Utrecht.

Pada awal November 1922, ia melakukan retret tahunannya di Loyola, Vught. Ia datang dengan flu yang parah. Segera setelah ia memulai Latihan yang biasa, keseriusan kondisinya mencegahnya untuk melanjutkan. Demam tinggi membuatnya mengigau terus menerus. Tetapi selama pemberian Sakramen Suci terakhir berlangsung, dia sepenuhnya akrab, dan bahkan setelah itu dia dapat membisikkan beberapa nasihat untuk kerabatnya di telingan saudarnya. Dia selalu menjadi penghibur yang tulus bagi mereka. Pada akhirnya tanggal 12 November 1922, ia meninggal dunia dan dimakamkan di Pemakaman Loyola yang indah dengan patung kebangkitan putih.