Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

"Kami berdua adalah teman, pada awal dan akhir hidup", demikian Pater Verdier berbicara tentang almarhum Pater W. Krause van Eeden. " Pada tahun 1924 saja naik kereta api dari Jakarta ke Jogja, sebagai kandidat untuk Seminari Kecil. Teman seperjalanan dan setujuan adalah Njo Wim ini. Tetapi sejak tahun pertama dia sudah mendahului saja. Dia langsung ke K1.II, saja lengkap dari K1.I".

Diantara teman-teman sekolah Njo Wim termasuk orang besar. Pertama karena badanya besar, kedua karena ayahnya juga orang besar seorang administratir perkebunan. Apalagi sebelum masuk Seminari dia sudah 3 tahun menjadi ambtenaar pada P.T.T. dengan tugas mengontrol kawat-kawat telepon rayon Banyumas - Pekalongan. Hidupnya memang banjak di jalan. Kecuali waktu harus mengontrol kawat-kawat telpon terus menerus naik mobil pelan-pelan memandang ke atas, sebelumnya dia sudah selalu berpindah rumah mengikuti ayah-ibunya.

Lahir di Malang th. 1903 belum lagi ± 7 bulan sudah harus pindah ke Madiun. Kemudian mulai : Kediri, Betawi (Jakarta), Banyumas, Bandung, kembali Madiun lalu Solo, Wonosobo dan akhirnja Jogja. Waktu datang di Jogja sebagai seminaris th.1924, pengembara ini belajar hidup sedenter. Dan sungguh sedenter: Seminari Kecil, Novisiat, Juniorat, filsafat, kolese-jaar, semuanja 11 tahun tanpa putus di Jogja. Setelah theologi 4 tahun di Maastricht masih kembali lagi ke Jogja untuk 3 tahun.

Kemudian mulai kerasulannja di Jakarta, di Mangga Besar, Toasebio dan Tangerang. Di Tangerang inilah dia menemukan tempatnya. Mula-mula sebagai stasi dari Toasebio kemudian sebagai paroki jang berdiri sendiri. Di sini kecuali bekerja sebagai pastur biasa, dia juga bertemu dengan bekas penderita kusta, yang tak diterima oleh masyarakat lagi. Untuk mereka ini Pater Krause van Eeden mendirikan pusat latihan kerja, yang kita kenal dengan nama 'Marfati' sekarang. Di Marfati ini bekas penderita kusta mendapat tempat berlindung dan bekerja mulai dengan penggilingan padi dan pabrik karton. Sekarang sudah lebih berkembang lagi.

Kalau pada tahun 1967 karena kesehatan memburuk, Pater Krause harus pergi bercuti ke Nederland, Tangerang sudah berdiri pada kaki jang kuat, baik paroki maupun Marfati. Tiga tahun dia berobat dan mengaso, kemudian pada th. 1971 kembali ke Indonesia. Antara sebulan dia masih mencoba bekerdja di paroki Ambarawa. Awal '72 dia pindah ke Girisonta. "Teman lama bertemu lagi. Kali inipun dia mendahului lagi. Belum sangat tua sebetulnya. Tetapi untuk gereja disini, dia sudah bekerja banyak".