Lahir di Oosterwijk (N.Br.) pada 7 Desember 1891. Setelah tamat sekolah Gymnasium di Gemert dan di Culemborg, ia masuk Novisiat di Mariendaal pada 20 September 1910, maka dengan demikian ia tidak jadi merayakan pesta 60 tahun, dalam Serikat di dunia fana ini.
Selesai filsafatnya di Oudenbosch, ia ditugaskan belajar untuk mendapatkan ijasah guru dan tinggal di Kolese Ignatius, Amsterdam. Tahun 1919 ia dikirim ke misi ke Indonesia, dan ditugaskan menjadi surveillant di Muntilan, mengajar Bahasa Belanda sampai th. 1923. Kemudian kembali ke Maastricht untuk belajar Teologi dan ditahbiskan imam pada 15 Agustus 1925. Tersiatnya dilangsungkan di S. Asaph (N.Wales).
Pada tahun 1928 kembali ke Indonesia, bertugas menjadi guru di Ambarawa selama setahun, dan kemudian ditugaskan menjadi gembala umat diantara umat Jawa di daerah Semarang. Dari pusat Gedangan, tanpa mengenal lelah ia menjelajahi stasi-stasi yang berjauhan di timur dan barat kota Semarang. Pada tahun 1943 ia dipindahkan ke Jogjakarta di Kidullodji. Baru sadja berkarya selama setahun terpaksa dimasukkan ke Interniran (1943-1945) di Cimahi dan kemudian dipindahkan ke Kamp Baros.
Keluar dari kamp, selama 4 tahun ia bekerja di Rumah Sakit Elisabeth, Semarang, dan kemudian diangkat mendjadi pastor paroki di Salatiga selama 2 tahun. Akhirnya ia mulai dengan masa mudanya yang kedua di Magelang, bekerja disini dari tahun 1951 sampai 1966. Karena penglihatannya makin berkurang, maka ia dipindahkan ke Girisonta. Tidak pernah ia pulang cuti, dan selalu mencurahkan tenaganya untuk kepentingan umat paroki setempat maupun saudara se Serikat, dengan doa dan teladan. Selalu memperhatikan perkembangan Serikat, dan pintu tetap terbuka sebagai bapa pengakuan dirumah, maupun di gereja dan di rumah Retret Girisonta.
Menjelang saatnya yang terakhir pun ia masih tetap giat memberikan pelajaran agama kepada dua kelompok, masing-masing para ibu dari paroki dan para pembantu rumah. Kesehatannya mundur baru nampak mulai hari Sabtu, 29 Agustus 1970. Seperti biasa, pada hari itu ia mempersembahkan misa di kapel rumah sakit. Biasanya dilayani oleh seorang novis, sering juga oleh Br. Boedipoernama. Misa yang dipersembahkan selalu misa St. Perawan Maria. Hampir seluruh rumus misa tersebut ia hafal. Setelah misa lalu berjalan-jalan mengelilingi serambi rumah satu kali putaran, sambil menanti kamarnya dipersiapkan.
Pada hari Sabtu itu ia lebih lama dari biasa mengucapkan doa sehabis misa, tidak mau berjalan-jalan, dan tertidur dikursi, hingga agak lama berada dikapel. Untung pembantu rumah yang melayaninya mencarinya, dan membawanya kembali ke kamar. Pagi itu keadaan seperti biasa. Jam 11.00 Pater Bonke datang untuk membacakan. Biasanya senang mendengarkan bacaan detektif, yang lalu dipercakapkan lebih lanjut. Jam 11.45 diantar ke kamar rekreasi, dia jarang sekali melupakan rekreasi itu. Tengah berjalan ke rekreasi, Pater Bonke mempunyai kesan bahwa jalannja sudah agak lambat, bahkan kadang-kadang hampir tidak dapat berdiri tegak lagi, meskipun hanya sekejap mata belaka. Sekonyong-konyong ia berkata: "Mungkin saat ajalku sudah mendekat". Pater Bonke bertanya: "Pater selalu siap bukan?" Jawabnya: "O, saja tidak berkeberatan sama sekali". Waktu rekreasi ia mau menuturkan kembali apa yang dia alami tadi pagi, tetapi kisahnya sudah tidak karuan bentuk dan proporsinya. Tetapi hari itu tidak terjadi hal yang tidak biasa lagi.
Pada hari Minggu 30 Agustus, jam 11.45 sebelum diantar ke rekreasi ia terpeleset dikamarnya dan jatuh. Untung sudah ada orang didekatnya, hingga segera dapat ditolong dan dibawa ke kursi malasnya. Rupa-rupanya tidak kesakitan apa-apa. Tetapi tidak mau ke rekreasi lagi, hanya ransumnya dua batang cerutu dan segelas anggur minta dibawa ke kamarnya. Sejak hari itu sudah tidak meninggalkan kamarnya kecuali untuk mempersembahkan misa di kapel rumah sakit.
Senin 31 Agustus dikunjungi oleh teman karibnya yaitu Pater Simon Beekman. Ketika itu reaksinya sudah lambat dan ungkapan pikirannya sudah sukar. Waktu mempersembahkan misa juga kelihatan kebingungan, tetapi nasih sanggup menyelesaikan.
Selasa 1 September nampak sekali kesulitan waktu mempersembahkan misa, meskipun duduk tetap kelihatan susah payah; terpaksa dibantu oleh seorang imam pada awal dan akhir. Tenaga sudah habis. Pada siang hari Pater Rektor bicara tentang Sakramen peminyakan dengan serta merta ia menyetujui. Sore hari seluruh komunitas hadir dikamarnya. Pater Rektor mengajak komunitas untuk berdoa bagi Pater de Kuyper; lalu diterimakan Sakramen perminyakan, Berkat indulgensi, Viaticum semua dalam bahasa Latin, karena dirasakan bahasa itulah jang paling disukai dalan penerimaan sakramen-sakramen. Pada akhirnja Pater de Kuyper masih berterima kasih kepada komunitas. Sudah sejak hari Senin selalu ada seseorang yang berjaga dikamarnya, begitu pula malam itu. Semua sudah menduga bahwa ia tidak lama lagi berada ditengah-tengah kita.
Rabu 2 September, baru saja Pater Rektor minta kepada para pater supaya bergiliran menungguinya, diantar dengan doa-doa terakhir, abdi yang menonjol kesetiaannya itu dipanggil oleh Tuhan, tanpa mengalami kesukaran atau kegelisahan sedikitpun. Pagi itu sampai jam 5.00 soré kita bergiliran berdoa dan menunggui dikamarnya. Jam 5.00 sore Pater Marta mengadakan upatjara di gereja, maka peti ajenazah diangkat ke gereja. Selanjutnya semalam suntuk diadakan doa dan tuguran. Kemudian jenazah dimakamkan di Ambarawa.