Museum opens only by Appointment.

62 024 831 5004

Pater Spekle lahir pada 8 Oktober 1895. Ia masuk novisiat Serikat Jesus pada 26 September 1916. Ia mendapatkan misi ke Hindia Belanda (Indonesia) sejak tahun 1922 setelah studi filsafatnya selesai. Ia pertamakali mendarat di Muntilan untuk belajar bahasa. Kemudian melanjutkan tahun orientasi kerasulan di Muntilan.

Setelah tahun orientasi kerasulannya selesai, ia melanjutkan studi teologi di Maastricht, Belanda. Ia pun ditahbiskan di sana pada 15 Agustus 1928. Kemudian ia melanjutkan formasi akhir Serikat Jesus dalam tersiat di Inggris dan mengucapkan kaul akhir pada 2 Februari 1931.

Riwayat Penugasan

Paroki Randusari Semarang 1930-1931
Paroki Muntilan Muntilan 1931-1938
Paroki Mendut
Internir – Jung-Eng/Roncalli
Internir – Kamp Cikudapateu
Internir – Kamp Pundong
Cuti Belanda 1946-1947
Paroki Tuntang Salatiga 1947-1949
Paroki Pugeran Yogyakarta 1949-1951
Paroki Muntilan Muntilan 1951-1959
Paroki Ungaran Ungaran 1959-1964
Paroki Girisonta Girisonta 1964-1965

Sebagai murid Turnhout, ia pandai berbahasa Perancis. Dan selama tersiatnya di Inggris ia berhasil menguasai bahasa Inggris dengan cukup lancar. Dari pendidikannya ia membawa pengetahuan yang luas yang ditimbanya dari buah pena beraneka pengarang.

Yang mengenal Pater Spekle, ia adalah seseorang yang berjalan keluar masuk kampung yang dengan keramahan dalam bahasa Jawanya yang lancar dan halus. Ia sungguh-sungguh berhasil menanamkan Gereja Kristus di tempat-tempat yang bisa dikatakan kurang subur. Paroki Muntilan terlihat sangat maju dan bahkan hubungannya dengan Bruder-Bruder FIC disekitarnya.

Badannya tidak sama kuat dengan semangatnya. Hal ini tampak jelas ketika ia bertugas di Ungaran. Semakin buruk kondisinya membuatnya ingin beristirahat di tempat yang aman di Girisonta. Ia amat sangat menikmati kehidupan barunya di Girisonta, dimana berdoa, berjalan-jalan, dan dalam bulan-bulan pertama bisa bertemu mengunjungi umat di Girisonta.

Pada tanggal 27 April 1965 ia mendapat serangan jantung dan karena keadaannya mengkhawatirkan, ia menerima sakramen-sakramen terakhir. Akan tetapi Tuhan belum berkenan memanggilnya. Tiga minggu kemudian ia mendapat serangan lagi. Namun, ingatannya telah sama sekali hilang hingga harus dirawat seperti anak kecil.

Pada tanggal 30 Mei 1965 pagi hari, ia dalam diam tanpa mengganggu siapapun pergi meninggalkan semuanya untuk ikut merayakan Pesta Santa Maria Ratu di Surga. Kemudian esok harinya setelah misa requiem, ia dimakamkan di Ambarawa.